Hello Guys and Girls !!!
It’s been a
long time sejak terakhir kali aku posting tulisan di blog. Dan sekarang aku
kembali menulis satu topik yang bisa dibilang favorit aku sih, yap perempuan.
I don’t remember how many times I’ve spoken this topic, tapi memang tema
ini seseru dan sepenting itu teman-teman. Biasanya kalau sudah mengangkat tema
perempuan, maka topik patriarki pasti disinggung. Mungkin sudah ada tulisan aku
yang membahas betapa pentingnya kesetaraan gender, dan pengakuan tentang peran
perempuan. Seolah perempuan meminta untuk tampil menggantikan laki-laki, atau
seolah perempuan berusaha untuk bersaing dengan laki-laki. No, that’s not
true. Kesetaraan gender dan pengakuan peran perempuan bukan untuk
mengalahkan laki-laki. So, for today I will tell you a story about a woman
who made a big impact, memainkan peran vital meski bukan tokoh utama.
But before
we start the story, aku perjelas dulu tujuan dari tulisan kali ini apa.
Melalui cerita ini aku ingin menyampaikan bahwa perempuan yang sedang berusaha
untuk menghilangkan patriarki tidak bermaksud ingin merendahkan laki-laki. As
a woman, kami tidak berusaha untuk merampas peran laki-laki, terlampau
sering para perempuan memegang ranah domestik, bergerak di belakang layar,
tetapi sayangnya perannya ngga diperhitungkan. We all can’t deny fakta
betapa posisi kami memang harus diperjuangkan. Bahkan tulisan yang berjudul “Menyoroti
Budaya Patriarki di Indonesia” yang ditulis oleh Ade Irma dan Dessy Hasanah
yang dimuat dalam Social Work Jurnal mencatat masyarakat Hindu di tahun
1500 SM tidak memberikan hak waris kepada perempuan ketika suaminya meninggal.
Di zaman itu pula banyak anak perempuan yang dinikahkan di usia sangat muda
tanpa diberikan pendidikan, sehingga banyak dari mereka yang mengalami buta
huruf. Kemudian, di masa penjajahan Belanda dan Jepang banyak sekali perempuan
pribumi yang dijadikan pekerja seks bagi para tentara asing. Dan sampai saat
ini masih banyak ketidak adilan terhadap perempuan yang masih terjadi. So,
it is always reasonable to talk about patriarchy this time.
The story
is about a woman during Majapahit era, perempuan hebat yang memainkan
perannya sebagai seorang ibu dan seorang politisi cerdas. It may sounds riddiculous tapi kita
tidak bisa mengabaikan peran dari sosok ini, now we are talking about
Gayatri Rajapatni. Dia adalah anak dari raja terakhir Singhasari. Setelah
kerajaan ayahnya diserang, Ia sempat hidup sebagai tawanan. Baru setelah
suaminya berhasil membebaskannya dan membangun kembali kerajaan dengan nama
Majapahit, Gayatri mendapatkan kedudukan sebagai ratu. Of course she is not
the only queen, tapi Gayatri bisa dibilang satu-satunya ratu yang
menyelamatkan takhta Majapahit dengan kecerdasannya.
Dia melahirkan
2 orang putri, anak tertuanya bernama Tribhuwana Tunggadewi yang mendapatkan
posisi sebagai Bupati di Kahuripan. Saat itu takhta Majapahit diberikan kepada
Jayanegara, anak dari ratu yang lain karena Gayatri tidak memiliki anak
laki-laki. Tetapi Jayanegara tidak mampu menjaga kedamaian di Majapahit, banyak
pemberontakan yang menyebabkan Jayanegara akhirnya dibawa ke pangasingan hingga
akhirnya terbunuh. Dengan kematian Jayanegara, suksesi Majapahit seharusnya
jatuh ke tangan Gayatri. Tapi, apakah Gayatri mengambil posisi tersebut? Tidak.
Gayatri
tried to safe the crown, dia tau usianya sudah tidak muda lagi untuk
menjadi seorang kepala negara dan ini hanya akan memberi ketenangan yang
sementara bagi Majapahit, dan dengan kejelian politik yang dia miliki akan
lebih baik baginya untuk hanya mengawasi takhta dari balik layar. Gayatri
memutuskan untuk menjadi bhiksuni, dan menyerahkan takhta Majapahit kepada
Tribhuwana Tunggadewi, tentunya dengan pangawasan Gayatri. Majapahit akhirnya
mulai mengalami recovery dan mulai berkembang lagi di bawah Tribhuwana
dan Mahapatih Gajah Mada. Kemudian dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Hayam
Wuruk. Sejarah mencatat betapa banyak prestasi Majapahit saat dipimpin oleh
anak dan cucu Gayatri. Semua ini tidak terlepas dari ide-ide politis yang
Gayatri miliki. From her story kita belajar bahwa yang terpenting adalah
memainkan peran dan menjadi berguna, terlepas apakah kita memainkan peran utama
atau tidak. Sebagai seorang perempuan, Gayatri berhasil menekan egonya, dia
berhasil menyadari nilai-nilai yang ada pada dirinya dan berhasil untuk
mengambil keputusan-keputusan hebat dalam hidupnya.
Mungkin jika
saat ini kita belum mampu sepenuhnya menghapus patriarki dari dunia ini,
setidaknya kisah hidup Gayatri bisa membukakan mata kita bahwa seorang
perempuan akan selalu memiliki peran dalam kehidupan. Seorang Gayatri mungkin
tidak menyangka dirinya akan dikenang saat ini, but she did very well.
Meski namanya tidak tercatat dalam singgasana, tapi siapapun ngga ada yang bisa
denial sama posisi dia di Istana. Di tempat manapun kita berada,
berpijak, bekerja, cobalah untuk selalu memiliki semangat Gayatri dalam diri
kita.
Annie.