Senin, 17 Januari 2022

Tahta dan Wanita : Teladan Kaum Puan

 




Hello Guys and Girls !!!

It’s been a long time sejak terakhir kali aku posting tulisan di blog. Dan sekarang aku kembali menulis satu topik yang bisa dibilang favorit aku sih, yap perempuan. I don’t remember how many times I’ve spoken this topic, tapi memang tema ini seseru dan sepenting itu teman-teman. Biasanya kalau sudah mengangkat tema perempuan, maka topik patriarki pasti disinggung. Mungkin sudah ada tulisan aku yang membahas betapa pentingnya kesetaraan gender, dan pengakuan tentang peran perempuan. Seolah perempuan meminta untuk tampil menggantikan laki-laki, atau seolah perempuan berusaha untuk bersaing dengan laki-laki. No, that’s not true. Kesetaraan gender dan pengakuan peran perempuan bukan untuk mengalahkan laki-laki. So, for today I will tell you a story about a woman who made a big impact, memainkan peran vital meski bukan tokoh utama.

But before we start the story, aku perjelas dulu tujuan dari tulisan kali ini apa. Melalui cerita ini aku ingin menyampaikan bahwa perempuan yang sedang berusaha untuk menghilangkan patriarki tidak bermaksud ingin merendahkan laki-laki. As a woman, kami tidak berusaha untuk merampas peran laki-laki, terlampau sering para perempuan memegang ranah domestik, bergerak di belakang layar, tetapi sayangnya perannya ngga diperhitungkan. We all can’t deny fakta betapa posisi kami memang harus diperjuangkan. Bahkan tulisan yang berjudul “Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia” yang ditulis oleh Ade Irma dan Dessy Hasanah yang dimuat dalam Social Work Jurnal mencatat masyarakat Hindu di tahun 1500 SM tidak memberikan hak waris kepada perempuan ketika suaminya meninggal. Di zaman itu pula banyak anak perempuan yang dinikahkan di usia sangat muda tanpa diberikan pendidikan, sehingga banyak dari mereka yang mengalami buta huruf. Kemudian, di masa penjajahan Belanda dan Jepang banyak sekali perempuan pribumi yang dijadikan pekerja seks bagi para tentara asing. Dan sampai saat ini masih banyak ketidak adilan terhadap perempuan yang masih terjadi. So, it is always reasonable to talk about patriarchy this time.

The story is about a woman during Majapahit era, perempuan hebat yang memainkan perannya sebagai seorang ibu dan seorang politisi cerdas.  It may sounds riddiculous tapi kita tidak bisa mengabaikan peran dari sosok ini, now we are talking about Gayatri Rajapatni. Dia adalah anak dari raja terakhir Singhasari. Setelah kerajaan ayahnya diserang, Ia sempat hidup sebagai tawanan. Baru setelah suaminya berhasil membebaskannya dan membangun kembali kerajaan dengan nama Majapahit, Gayatri mendapatkan kedudukan sebagai ratu. Of course she is not the only queen, tapi Gayatri bisa dibilang satu-satunya ratu yang menyelamatkan takhta Majapahit dengan kecerdasannya.

Dia melahirkan 2 orang putri, anak tertuanya bernama Tribhuwana Tunggadewi yang mendapatkan posisi sebagai Bupati di Kahuripan. Saat itu takhta Majapahit diberikan kepada Jayanegara, anak dari ratu yang lain karena Gayatri tidak memiliki anak laki-laki. Tetapi Jayanegara tidak mampu menjaga kedamaian di Majapahit, banyak pemberontakan yang menyebabkan Jayanegara akhirnya dibawa ke pangasingan hingga akhirnya terbunuh. Dengan kematian Jayanegara, suksesi Majapahit seharusnya jatuh ke tangan Gayatri. Tapi, apakah Gayatri mengambil posisi tersebut? Tidak.

Gayatri tried to safe the crown, dia tau usianya sudah tidak muda lagi untuk menjadi seorang kepala negara dan ini hanya akan memberi ketenangan yang sementara bagi Majapahit, dan dengan kejelian politik yang dia miliki akan lebih baik baginya untuk hanya mengawasi takhta dari balik layar. Gayatri memutuskan untuk menjadi bhiksuni, dan menyerahkan takhta Majapahit kepada Tribhuwana Tunggadewi, tentunya dengan pangawasan Gayatri. Majapahit akhirnya mulai mengalami recovery dan mulai berkembang lagi di bawah Tribhuwana dan Mahapatih Gajah Mada. Kemudian dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Hayam Wuruk. Sejarah mencatat betapa banyak prestasi Majapahit saat dipimpin oleh anak dan cucu Gayatri. Semua ini tidak terlepas dari ide-ide politis yang Gayatri miliki. From her story kita belajar bahwa yang terpenting adalah memainkan peran dan menjadi berguna, terlepas apakah kita memainkan peran utama atau tidak. Sebagai seorang perempuan, Gayatri berhasil menekan egonya, dia berhasil menyadari nilai-nilai yang ada pada dirinya dan berhasil untuk mengambil keputusan-keputusan hebat dalam hidupnya.

Mungkin jika saat ini kita belum mampu sepenuhnya menghapus patriarki dari dunia ini, setidaknya kisah hidup Gayatri bisa membukakan mata kita bahwa seorang perempuan akan selalu memiliki peran dalam kehidupan. Seorang Gayatri mungkin tidak menyangka dirinya akan dikenang saat ini, but she did very well. Meski namanya tidak tercatat dalam singgasana, tapi siapapun ngga ada yang bisa denial sama posisi dia di Istana. Di tempat manapun kita berada, berpijak, bekerja, cobalah untuk selalu memiliki semangat Gayatri dalam diri kita. 

Annie. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...