Selasa, 30 Agustus 2022

Makna Menjadi Manusia

 



Hello guys and girls!!

Gimana kabar di bulan Agustus ini? Kalau kalian belum batuk pilek, kalian luar biasa!

Rasanya Agustus kali ini hectic banget, mulai dari banyak orang sakit tenggorokan sampai orang-orang yang antusias ngikutin perkembangan kasus pembunuhan Brigadir Joshua. Karena ke-hectic-an ini di penghujung bulan Agustus aku memutuskan untuk nulis lagi untuk memberi tanda bulan yang dipenuhi kesibukan. Sebenarnya bisa aja bulan ini berlalu tanpa bikin tulisan di blog, tapi karena beberapa pertimbangan, jadinya aku memilih untuk menumpahkan pemikiran-pemikiran penuh serabut dari kepala ini.

Berbicara soal pilihan nih, kalian sadar ngga hidup kita ternyata dipenuhi dengan pilihan? Semua alur yang kita jalani setiap harinya adalah realisasi dari setiap keputusan-keputusan yang kita ambil. Even sekedar mau sarapan apa pagi ini, nasi goreng atau nasi pecel? Itu juga pilihan. Hanya saja kita kadang ngga ngerasa harus berpikir sampai ribet untuk hal-hal yang udah jadi kebiasaan. Ini juga karena Tuhan menganugerahkan kita otak yang sistem kerjanya udah autopilot. Mungkin saat kita lahir, orang tualah yang menentukan sesuatu untuk kita, tapi saat kita sudah mulai masuk sekolah dasar, disini kita mulai menunjukkan kecenderungan, dan pada akhirnya mampu menentukan pilihan. If we try to contemplate, making decisions starts when we are able to think, able to determine good and bad things. Kemampuan ini adalah bentuk perkembangan diri kita sebagai seorang manusia.

Menjadi manusia berarti memiliki kebebasan untuk memilih. Walaupun terkadang pilihan manusia itu terbatas oleh kondisi manusia lain. Manusia tetap memiliki hak utama bagi hidup mereka. Dan setiap manusia bertanggung jawab terhadap dirinya atas dasar akal. Karena Tuhan telah memberi manusia akal, maka tidak ada yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, pun tidak ada yang berhak mendikte pilihan seseorang. Kalau menurut Jean Paul Sartre, seorang filsuf aliran eksistensialisme, eksistensi manusia selalu memiliki kebebasan sejauh tindakannya mendatangkan manfaat bagi eksistensi hidupnya. Sedangkan bapak filsafat modern, Rene Descartes dengan slogannya yang terkenal menyatakan “Cogito Ergo Sum”, aku berpikir, maka aku ada. Maknanya eksistensi manusia baru dianggap ada ketika manusia tersebut berpikir.

Belajar dari para filsuf di atas, it’s clear that as an individual we have the freedom of choice, and if we want to be recognized as an individual we must be able to think. Disini perlu banget dikasih penekanan, kita harus mampu berpikir, sehingga keberadaan kita diakui dan keputusan kita didengar. Sebagai manusia, aku memberikan fokus yang besar terhadap konsep ini. Karena selama hidup aku merasa terkadang eksistensiku sering diabaikan. Not only in society, but also in family (more often). Hierarki sebagai orang tua kadang membuat mereka lupa bahwa kebebasan memilih juga dimiliki oleh anak-anak mereka. Atau mungkin sebab mereka terbiasa menentukan sesuatu untuk anak mereka sejak anak tersebut kecil. Keinginan yang berbeda, pertimbangan yang berbeda, leads to a different decision. We can say it’s normal, tapi ketika terjadi di suatu keluarga, muncul gesekan yang membuat hierarki tadi muncul lagi. Parahnya ini sering terjadi dalam hal masa depan anak.

Kalau kalian pernah nonton film Dead Poet Society kalian pasti tau bagaimana Neil tergila-gila bermain drama sedangkan ayahnya ingin Neil menjadi seorang dokter. Neil sudah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa dia akan baik-baik saja meski masa depannya tidak menjadi seorang dokter, Neil bahkan selalu mendapat nilai yang bagus dan mampu lulus lebih cepat dari sekolah. Tetapi ayahnya justru mengancam akan memasukkannya ke sekolah militer. Neil kehilangan harapan dan mengakhiri hidupnya. Problem seperti ini tidak asing di society kita saat ini bukan? Disini jelas keduanya memiliki pertimbangan masing-masing, tetapi tidak semua mampu menurunkan ego untuk menyadari hidup siapa sekarang yang mereka bicarakan. Sebagai keluarga, seharusnya memberikan support adalah hal yang tidak boleh putus.  Orang tua harus sadar bahwa anak mereka tetaplah seorang individu yang memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan untuk masa depannya. Ketika seorang anak memiliki passion terhadap sesuatu, meskipun ini bukan yang orang tuanya inginkan, as a parents they should give an unconditional support for it. Karena dengan anak tau apa yang dia inginkan atau cita-citakan maka orang tua telah berhasil mendidiknya untuk mampu berpikir sendiri.

Jangan lupa, masyarakat Eropa pernah terjebak di masa kegelapan hanya karena mereka tidak berani berpikir tentang alam semesta, mereka tidak berani mempertanyakan sesuatu, mereka hanya menerima apa yang dihadapkan bagi mereka tanpa memiliki keinginan yang lain. Seorang filsuf dari Jerman, Immanuel Kant bahkan pernah mengatakan manusia belum menggunakan rasionya (akal) semaksimal mungkin karena masih dikuasai otoritas-otoritas lain seperti tradisi, ini tanda manusia belum dewasa. Menurut Kant, manusia dianggap dewasa ketika Ia mampu berpikir sendiri tanpa bergantung otoritas apapun. Berarti ketika seorang anak sudah mampu menentukan pilihan untuk hidupnya, maka kedewasaan sudah ada padanya. Jadi, dengan memaksakan kehendak pribadi kepada seseorang apalagi dalam hal menentukan masa depannya, artinya menekan kedewasaan seseorang, melanggar hak kebebasannya untuk memilih, dan mengaburkan eksistensinya sebagai manusia.

Teruntuk kita yang sekarang ada di usia 20an, yang baru saja meninggalkan masa remajanya. Mungkin kalian sedang di fase jenuh menentukan sesuatu karena banyaknya pertimbangan, atau ekspektasi yang kalian pikul. Mungkin di usia ini kalian sedang mencari jati diri, kalian sedang membayangkan masa depan seperti apa yang ingin kalian bentuk. Aku ingin mengajak kalian ntuk berani berpikir sendiri, berani mengambil keputusan, dan memperjuangkan eksistensi diri sebagai seorang individu yang dianugerahi akal. Sapere Aude!


Annie.

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...