Hello guys and girls!!
Gimana kabar di bulan
Agustus ini? Kalau kalian belum batuk pilek, kalian luar biasa!
Rasanya
Agustus kali ini hectic banget, mulai dari banyak orang sakit
tenggorokan sampai orang-orang yang antusias ngikutin perkembangan kasus
pembunuhan Brigadir Joshua. Karena ke-hectic-an ini di penghujung bulan
Agustus aku memutuskan untuk nulis lagi untuk memberi tanda bulan yang dipenuhi
kesibukan. Sebenarnya bisa aja bulan ini berlalu tanpa bikin tulisan di blog,
tapi karena beberapa pertimbangan, jadinya aku memilih untuk menumpahkan pemikiran-pemikiran
penuh serabut dari kepala ini.
Berbicara
soal pilihan nih, kalian sadar ngga hidup kita ternyata dipenuhi dengan
pilihan? Semua alur yang kita jalani setiap harinya adalah realisasi dari setiap
keputusan-keputusan yang kita ambil. Even sekedar mau sarapan apa pagi
ini, nasi goreng atau nasi pecel? Itu juga pilihan. Hanya saja kita kadang ngga
ngerasa harus berpikir sampai ribet untuk hal-hal yang udah jadi kebiasaan. Ini
juga karena Tuhan menganugerahkan kita otak yang sistem kerjanya udah autopilot.
Mungkin saat kita lahir, orang tualah yang menentukan sesuatu untuk kita, tapi
saat kita sudah mulai masuk sekolah dasar, disini kita mulai menunjukkan kecenderungan,
dan pada akhirnya mampu menentukan pilihan. If we try to contemplate, making
decisions starts when we are able to think, able to determine good and bad
things. Kemampuan ini adalah bentuk perkembangan diri kita sebagai seorang
manusia.
Menjadi
manusia berarti memiliki kebebasan untuk memilih. Walaupun terkadang pilihan manusia
itu terbatas oleh kondisi manusia lain. Manusia tetap memiliki hak utama bagi
hidup mereka. Dan setiap manusia bertanggung jawab terhadap dirinya atas dasar
akal. Karena Tuhan telah memberi manusia akal, maka tidak ada yang tidak bisa dipertanggung
jawabkan, pun tidak ada yang berhak mendikte pilihan seseorang. Kalau menurut Jean
Paul Sartre, seorang filsuf aliran eksistensialisme, eksistensi manusia selalu
memiliki kebebasan sejauh tindakannya mendatangkan manfaat bagi eksistensi
hidupnya. Sedangkan bapak filsafat modern, Rene Descartes dengan slogannya yang
terkenal menyatakan “Cogito Ergo Sum”, aku berpikir, maka aku ada. Maknanya
eksistensi manusia baru dianggap ada ketika manusia tersebut berpikir.
Belajar
dari para filsuf di atas, it’s clear that as an individual we have the
freedom of choice, and if we want to be recognized as an individual we must be
able to think. Disini perlu banget dikasih penekanan, kita harus mampu
berpikir, sehingga keberadaan kita diakui dan keputusan kita didengar. Sebagai manusia,
aku memberikan fokus yang besar terhadap konsep ini. Karena selama hidup aku
merasa terkadang eksistensiku sering diabaikan. Not only in society, but also
in family (more often). Hierarki sebagai orang tua kadang membuat mereka
lupa bahwa kebebasan memilih juga dimiliki oleh anak-anak mereka. Atau mungkin
sebab mereka terbiasa menentukan sesuatu untuk anak mereka sejak anak tersebut
kecil. Keinginan yang berbeda, pertimbangan yang berbeda, leads to a
different decision. We can say it’s normal, tapi ketika terjadi di
suatu keluarga, muncul gesekan yang membuat hierarki tadi muncul lagi. Parahnya
ini sering terjadi dalam hal masa depan anak.
Kalau
kalian pernah nonton film Dead Poet Society kalian pasti tau bagaimana Neil
tergila-gila bermain drama sedangkan ayahnya ingin Neil menjadi seorang dokter.
Neil sudah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa dia akan baik-baik saja meski
masa depannya tidak menjadi seorang dokter, Neil bahkan selalu mendapat nilai
yang bagus dan mampu lulus lebih cepat dari sekolah. Tetapi ayahnya justru mengancam
akan memasukkannya ke sekolah militer. Neil kehilangan harapan dan mengakhiri hidupnya.
Problem seperti ini tidak asing di society kita saat ini bukan? Disini
jelas keduanya memiliki pertimbangan masing-masing, tetapi tidak semua mampu
menurunkan ego untuk menyadari hidup siapa sekarang yang mereka bicarakan. Sebagai
keluarga, seharusnya memberikan support adalah hal yang tidak boleh putus.
Orang tua harus sadar bahwa anak mereka tetaplah
seorang individu yang memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan untuk masa
depannya. Ketika seorang anak memiliki passion terhadap sesuatu, meskipun
ini bukan yang orang tuanya inginkan, as a parents they should give an unconditional
support for it. Karena dengan anak tau apa yang dia inginkan atau cita-citakan
maka orang tua telah berhasil mendidiknya untuk mampu berpikir sendiri.
Jangan
lupa, masyarakat Eropa pernah terjebak di masa kegelapan hanya karena mereka
tidak berani berpikir tentang alam semesta, mereka tidak berani mempertanyakan
sesuatu, mereka hanya menerima apa yang dihadapkan bagi mereka tanpa memiliki
keinginan yang lain. Seorang filsuf dari Jerman, Immanuel Kant bahkan pernah
mengatakan manusia belum menggunakan rasionya (akal) semaksimal mungkin karena
masih dikuasai otoritas-otoritas lain seperti tradisi, ini tanda manusia belum
dewasa. Menurut Kant, manusia dianggap dewasa ketika Ia mampu berpikir sendiri
tanpa bergantung otoritas apapun. Berarti ketika seorang anak sudah mampu
menentukan pilihan untuk hidupnya, maka kedewasaan sudah ada padanya. Jadi, dengan
memaksakan kehendak pribadi kepada seseorang apalagi dalam hal menentukan masa
depannya, artinya menekan kedewasaan seseorang, melanggar hak kebebasannya
untuk memilih, dan mengaburkan eksistensinya sebagai manusia.
Teruntuk
kita yang sekarang ada di usia 20an, yang baru saja meninggalkan masa remajanya.
Mungkin kalian sedang di fase jenuh menentukan sesuatu karena banyaknya
pertimbangan, atau ekspektasi yang kalian pikul. Mungkin di usia ini kalian
sedang mencari jati diri, kalian sedang membayangkan masa depan seperti apa
yang ingin kalian bentuk. Aku ingin mengajak kalian ntuk berani berpikir
sendiri, berani mengambil keputusan, dan memperjuangkan eksistensi diri sebagai
seorang individu yang dianugerahi akal. Sapere Aude!
Annie.
