Hello
guys and girls!!
Huh,
after so much time I spent on work, and other activities, I’m back. October was
such a busy month. Selain harus menyiapkan soal-soal untuk ujian akhir
semester, aku juga lumayan sibuk membimbing tim esai sekolah. Untungnya, mereka
lolos ke babak final, dan finalnya akan dilaksanakan November ini. I feel so
relieved. Dan, hal lain yang ngga kalah penting di bulan Oktober adalah my
engagement with Ikhya xixi.
Sorry
If I didn’t introduce him before. He was my boyfriend since February, and now
he is my fiancĂ©. Wait, kalian mungkin berpikir ini terlalu cepat. But it’s
actually not. Ikhya adalah teman sekampus dari sahabat lamaku. Kami kemudian
berkenalan dan ternyata percakapan kami lumayan cocok. Ikhya bukan laki-laki
genit, atau suka cari perhatian. Dia memang cenderung cerewet but quite fun.
Ikhya mampu mengimbangi pembicaraan apapun tanpa terlihat sok tahu. Dan dari
berbagai obrolan kami yang ringan mulai berubah jadi sharing values yang kami
pegang. Kami sama-sama sadar values kami tidak banyak berbeda. Dari situlah
mulai ada perasaan lain yang menyelinap di antara aku dan Ikhya.
Now,
gimana aku bisa yakin that he is the one? Well, aku coba jelaskan ya. Aku tidak
akan meromantisasi tulisan kali ini, tapi jika masih romantis forgive me, it is
what it is. Selama ini aku sudah beberapa kali menjalin hubungan yang banyak
membuat aku belajar. Belajar menerima adalah subjek utama. Namun, dalam proses
belajar itu aku melakukannya sendirian. Menerka mana yang benar dan salah.
Meraba apakah ini baik atau buruk. Hingga menyimpulkan sendiri pelajaran yang
aku dapat dari setiap peristiwa yang aku alami di hubungan tersebut. Tapi
dengan Ikhya, aku seakan belajar bersama. Ikhya tidak mendikte mana yang benar
dan salah. Tetapi aku selalu bisa datang padanya untuk mengadu tentang apapun
yang membuatku ragu. Bisa dibilang Ikhya membersamai proses belajarku. Aku
bahkan bisa datang dalam wujud apapun padanya, marah, sedih, bimbang, ataupun
bahagia. He’d never judge me. Selain itu, aku juga merasa Ikhya berbagi prinsip
yang sama denganku. Aku selalu dapat berkompromi dalam hal masa depan
dengannya. ‘Cause life is full of compromises isn’t it?
Aku
yakin untuk melangkah sama Ikhya, dan ternyata dia juga sama. Kamipun mencoba
untuk membuat janji yang lebih serius dari sebelumnya, hubungan yang lebih
jelas tujuannya, dan memberanikan diri menghadapi hari-hari yang lebih kompleks
dari biasanya. So here we are, engaged. Tentu saja ini bukan klimaks dari
hubungan kami, akan masih banyak momen yang kami lewati, tahap demi tahap yang
akan dilalui. Kehidupan masih penuh misteri hingga hari ini. But with him, I
don’t fear nothing. Karena kami sama-sama pribadi yang cukup fleksibel dalam
hidup, aku merasa ngga ada tekanan untuk sesuatu. We share the same ideas about
gender roles, mental health, setting boundaries with society, everything about
future. Karena rasa sefrekuensi ini aku seperti udah mengenal Ikhya puluhan
tahun. Ngga susah sama sekali buat adaptasi ke Ikhya. Kali ini Jalaluddin Rumi
benar lagi, “lovers don’t finally meet somewhere, they’re in each other all
along”.
Last
but not least, aku bersyukur banget Tuhan selalu berbaik hati memberikan
kejutan dan mengabulkan doa-doa yang aku langitkan. Tuhan memang tidak pernah
mengecewakan hambaNya asal kita selalu percaya.
Annie.