Minggu, 06 November 2022

About October 2022

 


Hello guys and girls!!

Huh, after so much time I spent on work, and other activities, I’m back. October was such a busy month. Selain harus menyiapkan soal-soal untuk ujian akhir semester, aku juga lumayan sibuk membimbing tim esai sekolah. Untungnya, mereka lolos ke babak final, dan finalnya akan dilaksanakan November ini. I feel so relieved. Dan, hal lain yang ngga kalah penting di bulan Oktober adalah my engagement with Ikhya xixi.

Sorry If I didn’t introduce him before. He was my boyfriend since February, and now he is my fiancĂ©. Wait, kalian mungkin berpikir ini terlalu cepat. But it’s actually not. Ikhya adalah teman sekampus dari sahabat lamaku. Kami kemudian berkenalan dan ternyata percakapan kami lumayan cocok. Ikhya bukan laki-laki genit, atau suka cari perhatian. Dia memang cenderung cerewet but quite fun. Ikhya mampu mengimbangi pembicaraan apapun tanpa terlihat sok tahu. Dan dari berbagai obrolan kami yang ringan mulai berubah jadi sharing values yang kami pegang. Kami sama-sama sadar values kami tidak banyak berbeda. Dari situlah mulai ada perasaan lain yang menyelinap di antara aku dan Ikhya.

Now, gimana aku bisa yakin that he is the one? Well, aku coba jelaskan ya. Aku tidak akan meromantisasi tulisan kali ini, tapi jika masih romantis forgive me, it is what it is. Selama ini aku sudah beberapa kali menjalin hubungan yang banyak membuat aku belajar. Belajar menerima adalah subjek utama. Namun, dalam proses belajar itu aku melakukannya sendirian. Menerka mana yang benar dan salah. Meraba apakah ini baik atau buruk. Hingga menyimpulkan sendiri pelajaran yang aku dapat dari setiap peristiwa yang aku alami di hubungan tersebut. Tapi dengan Ikhya, aku seakan belajar bersama. Ikhya tidak mendikte mana yang benar dan salah. Tetapi aku selalu bisa datang padanya untuk mengadu tentang apapun yang membuatku ragu. Bisa dibilang Ikhya membersamai proses belajarku. Aku bahkan bisa datang dalam wujud apapun padanya, marah, sedih, bimbang, ataupun bahagia. He’d never judge me. Selain itu, aku juga merasa Ikhya berbagi prinsip yang sama denganku. Aku selalu dapat berkompromi dalam hal masa depan dengannya. ‘Cause life is full of compromises isn’t it?

Aku yakin untuk melangkah sama Ikhya, dan ternyata dia juga sama. Kamipun mencoba untuk membuat janji yang lebih serius dari sebelumnya, hubungan yang lebih jelas tujuannya, dan memberanikan diri menghadapi hari-hari yang lebih kompleks dari biasanya. So here we are, engaged. Tentu saja ini bukan klimaks dari hubungan kami, akan masih banyak momen yang kami lewati, tahap demi tahap yang akan dilalui. Kehidupan masih penuh misteri hingga hari ini. But with him, I don’t fear nothing. Karena kami sama-sama pribadi yang cukup fleksibel dalam hidup, aku merasa ngga ada tekanan untuk sesuatu. We share the same ideas about gender roles, mental health, setting boundaries with society, everything about future. Karena rasa sefrekuensi ini aku seperti udah mengenal Ikhya puluhan tahun. Ngga susah sama sekali buat adaptasi ke Ikhya. Kali ini Jalaluddin Rumi benar lagi, “lovers don’t finally meet somewhere, they’re in each other all along”.

Last but not least, aku bersyukur banget Tuhan selalu berbaik hati memberikan kejutan dan mengabulkan doa-doa yang aku langitkan. Tuhan memang tidak pernah mengecewakan hambaNya asal kita selalu percaya.

Annie.

 

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...