Selasa, 21 Februari 2023

Mengenali Kita

 

Tulisan ini mencoba mengajak semua pembacanya untuk sejenak merenung, tentang eksistensi diri masing-masing. Merelakan satu sampai tiga menit untuk melihat ke dalam diri, betapa banyak tugas, pressure, dan ekspektasi yang dihadapi oleh diri kita setiap harinya. Di dunia yang penuh ambisi ini hidup terasa penuh dengan tahapan kaku yang seolah wajib dilalui semua orang. Kita bahkan lupa bahwa Tuhan memberikan jalan yang berbeda kepada setiap ciptaan-Nya. Aku sendiri terkadang merasa betapa hectic-nya pekerjaan yang aku lalui dari pagi hingga petang. Karena kita semua adalah jiwa yang hidup dalam sebuah raga, aku bisa merasakan terkadang ragaku mengeluh kelelahan. Bagaimana tidak, memberi makan ego untuk terus terlihat sibuk hingga membuat diri haus akan pujian, pencapaian, dan pengakuan. Pernahkah kita berpikir betapa kuat diri kita sejauh ini? Pernahkah kita merasa berhutang istirahat dan apresiasi terhadap diri kita sendiri?

 “New Year, New Me!”  Slogan yang entah siapa pencetusnya ini sekarang setara hukum alam yang harus diimani semua orang. Kita sibuk menetapkan resolusi luar biasa yang lagi-lagi harus dicapai selama satu tahun tersebut. Resolusi yang pada akhirnya menuntut dan membayangi setiap aktivitas kita. Sebenarnya tidak salah sama sekali memiliki resolusi hebat yang ingin dicapai, namun sebagian dari kita justru lupa menikmati proses. Lebih parah lagi kadang kita lengah mengambil pembelajaran dari proses yang kita lalui, ‘cause we focus only on the result. Dengan semangat membara setiap hari kita mengejar pengakuan orang lain, dan melewatkan ide untuk memulai semuanya dari hal terkecil.

Tanpa kita sadari, kita berusaha untuk menjadi pribadi yang ideal menurut kacamata orang lain. Kita bertumbuh untuk berusaha menjadi manusia inspiratif tanpa cela, yang selalu ingin dijadikan contoh bagi manusia lain. Belum lagi demi mengejar label “orang baik” kita kadang berusaha untuk selalu menuruti keinginan orang di sekitar kita. Meskipun hal tersebut bukan yang kita inginkan atau bahkan bertentangan dengan hati nurani. Kali ini kita telah masuk ke komunitas People Pleaser, kumpulan orang-orang yang merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Kita kehilangan esensi sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas. Something is missing here, bravery. Kita takut mengecewakan orang lain, hingga kita rela berbohong pada diri sendiri. Tak jarang pula, kita kehilangan diri kita sendiri. That’s why in the end of the day, kita menjadi orang yang serakah, egois, dan bahkan stress sendiri.

Lalu apakah kita harus menjadi manusia super santai yang jatuhnya jadi pemalas? Of course not! Kita berhutang banyak pada diri kita. Maka mulailah untuk berdamai dengan diri kita sendiri. Ingat, hidup ini bukan battle yang harus dimenangkan. Hidup ini sejatinya adalah perjalanan yang setiap lika likunya penuh makna. Cobalah untuk memiliki self-awareness, berkontemplasi tentang diri kita. Siapa kita sebenarnya? Apa yang benar-benar kita tuju? Sejauh mana kita bisa melakukan sesuatu? Sehingga kita mampu mengoptimalkan potensi yang ada. Selain itu, dengan mengenal jati diri kita telah mengurangi intensitas hustling yang selama ini menjadi kebiasaan. Meyakinkan pikiran dan hati bahwa we are enough just the way we are.

Merasa cukup terhadap diri sendiri harusnya menjadi kesadaran setiap manusia yang mencintai dirinya. Untuk apa mengejar standar yang sebenarnya tidak ada? Bayangkan saja kalau semua manusia harus sepintar Albert Einstein, atau harus sesukses Bill Gates, bahkan harus sekreatif Elon Musk, berapa banyak manusia akan melabeli dirinya gagal? Mungkin mereka dikenal karena gagasan, dan pemikirannya. Mereka memainkan peran “doing” yang sangat bagus. Tapi jangan lupa, semua dari kita memiliki peran “being” dan “doing” masing-masing. Kedua peran ini harus seimbang untuk menjaga diri kita still alive. Jika kita hanya terpusat pada pengakuan orang lain maka kita hanya menonjolkan sisi “doing”, sedangkan “being” adalah proses kita untuk menjadi diri sendiri, mencoba melupakan hiruk pikuk dunia dengan segala ambisinya, just being ourselves.

Melalui tulisan ini aku mengajak kita semua untuk merealisasikan rasa cinta terhadap diri kita sendiri. Orang-orang biasa menyebutnya self-love, yang akhir-akhir ini sering disalah artikan. Self-love belakang ini menjadi kambing hitam orang-orang untuk bersikap irresponsible, boros, bahkan merendahkan orang lain. Mungkin karena seringnya penggunaan kata ini membuat maknanya jadi bergeser. Self-love bukan sesuatu yang mahal, yang harus mengorbankan kualitas diri untuk melakukannya. Self-love itu sesederhana memberikan jeda pada tubuh untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Dapat juga berupa memaafkan diri kita pada kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja kita lakukan di hari ini. Membiarkan diri kita berkembang dengan cara yang sehat, merasakan segala emosi yang kita miliki muncul dengan alami. Pada intinya adalah memberikan apreasiasi pada hal-hal kecil yang kita lalui hari ini. We’ve got every right to a beautiful life, jadi sayangi diri kita, lepaskan semua beban yang kita rasa terlalu berat, berikan otonomi diri kita sepenuhnya hanya pada kita sendiri.



Annie.

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...