Tulisan
ini mencoba mengajak semua pembacanya untuk sejenak merenung, tentang
eksistensi diri masing-masing. Merelakan satu sampai tiga menit untuk melihat
ke dalam diri, betapa banyak tugas, pressure, dan ekspektasi yang dihadapi
oleh diri kita setiap harinya. Di dunia yang penuh ambisi ini hidup terasa
penuh dengan tahapan kaku yang seolah wajib dilalui semua orang. Kita bahkan
lupa bahwa Tuhan memberikan jalan yang berbeda kepada setiap ciptaan-Nya. Aku
sendiri terkadang merasa betapa hectic-nya pekerjaan yang aku lalui dari
pagi hingga petang. Karena kita semua adalah jiwa yang hidup dalam sebuah raga,
aku bisa merasakan terkadang ragaku mengeluh kelelahan. Bagaimana tidak,
memberi makan ego untuk terus terlihat sibuk hingga membuat diri haus akan
pujian, pencapaian, dan pengakuan. Pernahkah kita berpikir betapa kuat diri
kita sejauh ini? Pernahkah kita merasa berhutang istirahat dan apresiasi
terhadap diri kita sendiri?
“New Year, New Me!” Slogan yang entah siapa pencetusnya ini sekarang
setara hukum alam yang harus diimani semua orang. Kita sibuk menetapkan resolusi
luar biasa yang lagi-lagi harus dicapai selama satu tahun tersebut. Resolusi
yang pada akhirnya menuntut dan membayangi setiap aktivitas kita. Sebenarnya
tidak salah sama sekali memiliki resolusi hebat yang ingin dicapai, namun
sebagian dari kita justru lupa menikmati proses. Lebih parah lagi kadang kita
lengah mengambil pembelajaran dari proses yang kita lalui, ‘cause we focus
only on the result. Dengan semangat membara setiap hari kita mengejar
pengakuan orang lain, dan melewatkan ide untuk memulai semuanya dari hal
terkecil.
Tanpa
kita sadari, kita berusaha untuk menjadi pribadi yang ideal menurut kacamata
orang lain. Kita bertumbuh untuk berusaha menjadi manusia inspiratif tanpa
cela, yang selalu ingin dijadikan contoh bagi manusia lain. Belum lagi demi
mengejar label “orang baik” kita kadang berusaha untuk selalu menuruti
keinginan orang di sekitar kita. Meskipun hal tersebut bukan yang kita inginkan
atau bahkan bertentangan dengan hati nurani. Kali ini kita telah masuk ke
komunitas People Pleaser, kumpulan orang-orang yang merasa bertanggung
jawab atas kebahagiaan orang lain. Kita kehilangan esensi sebagai manusia yang
memiliki kehendak bebas. Something is missing here, bravery. Kita takut
mengecewakan orang lain, hingga kita rela berbohong pada diri sendiri. Tak
jarang pula, kita kehilangan diri kita sendiri. That’s why in the end of the
day, kita menjadi orang yang serakah, egois, dan bahkan stress sendiri.
Lalu
apakah kita harus menjadi manusia super santai yang jatuhnya jadi pemalas? Of
course not! Kita berhutang banyak pada diri kita. Maka mulailah untuk
berdamai dengan diri kita sendiri. Ingat, hidup ini bukan battle yang harus
dimenangkan. Hidup ini sejatinya adalah perjalanan yang setiap lika likunya
penuh makna. Cobalah untuk memiliki self-awareness, berkontemplasi
tentang diri kita. Siapa kita sebenarnya? Apa yang benar-benar kita tuju?
Sejauh mana kita bisa melakukan sesuatu? Sehingga kita mampu mengoptimalkan
potensi yang ada. Selain itu, dengan mengenal jati diri kita telah mengurangi
intensitas hustling yang selama ini menjadi kebiasaan. Meyakinkan
pikiran dan hati bahwa we are enough just the way we are.
Merasa
cukup terhadap diri sendiri harusnya menjadi kesadaran setiap manusia yang
mencintai dirinya. Untuk apa mengejar standar yang sebenarnya tidak ada?
Bayangkan saja kalau semua manusia harus sepintar Albert Einstein, atau harus
sesukses Bill Gates, bahkan harus sekreatif Elon Musk, berapa banyak manusia
akan melabeli dirinya gagal? Mungkin mereka dikenal karena gagasan, dan
pemikirannya. Mereka memainkan peran “doing” yang sangat bagus. Tapi
jangan lupa, semua dari kita memiliki peran “being” dan “doing” masing-masing.
Kedua peran ini harus seimbang untuk menjaga diri kita still alive. Jika
kita hanya terpusat pada pengakuan orang lain maka kita hanya menonjolkan sisi “doing”,
sedangkan “being” adalah proses kita untuk menjadi diri sendiri, mencoba
melupakan hiruk pikuk dunia dengan segala ambisinya, just being ourselves.
Melalui
tulisan ini aku mengajak kita semua untuk merealisasikan rasa cinta terhadap
diri kita sendiri. Orang-orang biasa menyebutnya self-love, yang
akhir-akhir ini sering disalah artikan. Self-love belakang ini menjadi
kambing hitam orang-orang untuk bersikap irresponsible, boros, bahkan
merendahkan orang lain. Mungkin karena seringnya penggunaan kata ini membuat
maknanya jadi bergeser. Self-love bukan sesuatu yang mahal, yang harus
mengorbankan kualitas diri untuk melakukannya. Self-love itu sesederhana
memberikan jeda pada tubuh untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Dapat
juga berupa memaafkan diri kita pada kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja
kita lakukan di hari ini. Membiarkan diri kita berkembang dengan cara yang
sehat, merasakan segala emosi yang kita miliki muncul dengan alami. Pada
intinya adalah memberikan apreasiasi pada hal-hal kecil yang kita lalui hari
ini. We’ve got every right to a beautiful life, jadi sayangi diri kita,
lepaskan semua beban yang kita rasa terlalu berat, berikan otonomi diri kita
sepenuhnya hanya pada kita sendiri.
Annie.
