Surabaya, 15 November 2023
Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai menyapa Surabaya, setelah babak belur dihantam panas berbulan-bulan. Tapi kali ini air hujan tidak semenyenangkan dulu, hawa dingin tidak memeluk hatiku yang kering. Tahukah kamu seberapa besar aku membenci sepi? Sepi yang selalu membuatku menyalahkan waktu. Sepi yang membiarkan mataku kosong dan pikiranku penuh. Aku tidak memiliki tempat untuk mengadukan betapa jahatnya sepi terhadapku. Mungkin ada, tapi entah aku saja yang merasa sia-sia. Aku ini raga yang kehilangan segala ambisinya. Dahulu aku kira, mimpi-mimpiku adalah ambisi yang membuatku hidup. Realitasnya, aku yang saat ini sedang menjalani mimpi itu, justru merasa kosong. Apakah terlambat menyadari kalau ambisiku adalah kamu? Apakah akan terdengar sangat egois kalau ternyata mimpiku yang sebenarnya adalah membersamaimu?