True Love?
Hello guys and girls !
Tulisan ini akan sangat relate untuk kaum-kaum 20 ke atas yang udah mulai mikir true love. Mulai dari yang masih single sampai yang udah punya calon. Mulai dari yang mau nikah besok, sampai yang masih belum tau kapan. Apapun status hubungannya, kita pasti pernah kepikiran tentang cinta sejati. Kalau dari perspektif aku sih, cinta sejati means dia yang akan nikah sama aku kelak. Kalau aku besarnya di Eropa yang goals percintaannya tidak selalu "married", mungkin cinta sejati bisa beda arti, makanya aku tegaskan tulisan ini dari perspektif aku aja ya.
Di usia saat ini aku sedang merasakan betapa hectic-nya jadi bridesmaid buat teman-teman yang satu per satu naik pelaminan. Tahun ini aja udah ada 5 teman sekolah yang nikah, dan udah kedua kalinya aku jadi bridesmaid. Ikut seneng sih saat mereka akhirnya berani melangkah ke tahap itu. Tahap yang akan berbeda dengan sebelumnya, dan butuh kesiapan yang luar biasa. Dan tidak sekali dua kali aku dapat pertanyaan template "Kapan Nyusul?" dari berbagai kalangan. Bukan kesal, tapi bikin mikir aja. Karena tbh, aku juga nggak tau kapan akan menyusul mereka. Jangankan menentukan tanggal, akupun masih bingung finding who my true love is.
Saat aku SMP mungkin dengan simple aku akan mendefinisikan cinta dengan ciri-ciri fisik seperti tampan dan keren. Berubah sedikit saat SMA, cinta berarti dia yang memperlakukan aku seperti ratu. Saat kuliah, cinta lebih bervariasi lagi, mulai dari perasaan nyaman hingga keinginan untuk memiliki. Satu hal yang sama dari pola di atas, bahagia. Awalnya tidak ada yang aneh, semua orang memang membutuhkan cinta untuk kebahagiaan. Tapi percaya atau tidak, once you step outside from your bubble, kamu akan menemukan definisi yang lebih kompleks tentang cinta. Dan saat ini adalah saat dimana orang-orang seusiaku beranjak dari gelembung zona nyaman. Bisa karena kita sudah bosan dengan pola yang sama, atau memang secara alami kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa cinta tidak selalu harus memilih kebahagiaan.
Aku sendiri mengalami pilihan yang kedua. Entah sejak kapan aku terlibat dengan perasaan yang penuh roller coaster, tapi mendewasakan. Semakin mendekati kata "married", aku semakin harus mendefinisikan cinta seperti apa yang akan aku pilih. Tentunya aku ingin yang tepat, yang tidak berlebihan, tetapi juga masih bisa aku jalani. I realized some points in my current relationship, bahwa ternyata kita tidak hanya hidup dengan hal-hal manis. Kita juga membawa kekurangan masing-masing yang harus kita terima. Beberapa hal mungkin bisa kita atur, tetapi lebih banyak yang tidak, pilihannya hanya menerima. Jadi pertanyaan selanjutnya yang muncul di kepalaku adalah bisakah aku menerima ini?
Kita terbiasa dihadapkan pada hitam atau putih, tetapi bagaimana ketika kita harus memilih antara pink or rose gold? peach or yellow? mint or green? bahkan se abstrak baby blue or navy? Nggak ada keabsolutan, nggak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Yang ada hanya apakah kekurangan itu bisa kita terima? dan apakah kelebihannya terasa cukup untuk kita? Sorry, tapi aku juga masih berusaha mencari jawabannya. Seseorang yang nantinya akan kamu pilih tidak hanya memiliki masa kini dan masa depan, tetapi juga masa lalu. Ngga usah munafik, sebagian besar perempuan masih sering bermasalah sama masa lalu pasangannya. Sekarang kalau keputusan untuk menikah sudah di depan mata, bisakah kita berjanji untuk tidak mempermasalahkan masa lalunya? Atau yang lebih urgent, mungkin saat ini masih ada beberapa hal yang belum mampu kamu terima. Itu semua masih perkara emosional. Kita semua tau pernikahan masih bisa kita bahas dari sisi manapun. Finansial misalnya, nggak jarang kita masih terjebak di pilihan kaya atau miskin. Padahal hidup itu se-abstrak yang aku jelasin tadi.
Keresahan-keresahan ini belum selesai berputar di kepalaku. Itulah kenapa menikah masih menjadi keputusan besar yang belum mampu aku gapai. Dan mungkin aku akan tetap menikah meski masih menyisakan beberapa pertanyaan, karena sebagai perempuan yang hidup di negara timur, kita semua sudah terikat dengan norma. Dan aku berharap suatu saat nanti bisa menemukan jawaban dari itu semua, apalagi kalau ternyata proses menemukannya dilakukan bersama dengan pasangan hidup kita. Pesanku, kalau memang kamu sudah bisa menerima semua keresahan di atas, menikah aja. Tapi kalau belum, lebih baik kita coba untuk merenungkannya lagi. Karena aku yakin kita semua tidak ada yang ingin gagal.
Annie.

