Senin, 20 September 2021

True Love?

True Love?

Hello guys and girls !

    Tulisan ini akan sangat relate untuk kaum-kaum 20 ke atas yang udah mulai mikir true love. Mulai dari yang masih single sampai yang udah punya calon. Mulai dari yang mau nikah besok, sampai yang masih belum tau kapan. Apapun status hubungannya, kita pasti pernah kepikiran tentang cinta sejati. Kalau dari perspektif aku sih, cinta sejati means dia yang akan nikah sama aku kelak. Kalau aku besarnya di Eropa yang goals percintaannya tidak selalu "married", mungkin cinta sejati bisa beda arti, makanya aku tegaskan tulisan ini dari perspektif aku aja ya. 

    Di usia saat ini aku sedang merasakan betapa hectic-nya jadi bridesmaid buat teman-teman yang satu per satu naik pelaminan. Tahun ini aja udah ada 5 teman sekolah yang nikah, dan udah kedua kalinya aku jadi bridesmaid. Ikut seneng sih saat mereka akhirnya berani melangkah ke tahap itu. Tahap yang akan berbeda dengan sebelumnya, dan butuh kesiapan yang luar biasa. Dan tidak sekali dua kali aku dapat pertanyaan template "Kapan Nyusul?" dari berbagai kalangan. Bukan kesal, tapi bikin mikir aja. Karena tbh, aku juga nggak tau kapan akan menyusul mereka. Jangankan menentukan tanggal, akupun masih bingung finding who my true love is

    Saat aku SMP mungkin dengan simple aku akan mendefinisikan cinta dengan ciri-ciri fisik seperti tampan dan keren. Berubah sedikit saat SMA, cinta berarti dia yang memperlakukan aku seperti ratu. Saat kuliah, cinta lebih bervariasi lagi, mulai dari perasaan nyaman hingga keinginan untuk memiliki. Satu hal yang sama dari pola di atas, bahagia. Awalnya tidak ada yang aneh, semua orang memang membutuhkan cinta untuk kebahagiaan. Tapi percaya atau tidak, once you step outside from your bubble, kamu akan menemukan definisi yang lebih kompleks tentang cinta. Dan saat ini adalah saat dimana orang-orang seusiaku beranjak dari gelembung zona nyaman. Bisa karena kita sudah bosan dengan pola yang sama, atau memang secara alami kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa cinta tidak selalu harus memilih kebahagiaan. 

    Aku sendiri mengalami pilihan yang kedua. Entah sejak kapan aku terlibat dengan perasaan yang penuh roller coaster, tapi mendewasakan. Semakin mendekati kata "married", aku semakin harus mendefinisikan cinta seperti apa yang akan aku pilih. Tentunya aku ingin yang tepat, yang tidak berlebihan, tetapi juga masih bisa aku jalani. I realized some points in my current relationship, bahwa ternyata kita tidak hanya hidup dengan hal-hal manis. Kita juga membawa kekurangan masing-masing yang harus kita terima. Beberapa hal mungkin bisa kita atur, tetapi lebih banyak yang tidak, pilihannya hanya menerima. Jadi pertanyaan selanjutnya yang muncul di kepalaku adalah bisakah aku menerima ini?

    Kita terbiasa dihadapkan pada hitam atau putih, tetapi bagaimana ketika kita harus memilih antara pink or rose gold? peach or yellow? mint or green? bahkan se abstrak baby blue or navy? Nggak ada keabsolutan, nggak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Yang ada hanya apakah kekurangan itu bisa kita terima? dan apakah kelebihannya terasa cukup untuk kita? Sorry, tapi aku juga masih berusaha mencari jawabannya. Seseorang yang nantinya akan kamu pilih tidak hanya memiliki masa kini dan masa depan, tetapi juga masa lalu. Ngga usah munafik, sebagian besar perempuan masih sering bermasalah sama masa lalu pasangannya. Sekarang kalau keputusan untuk menikah sudah di depan mata, bisakah kita berjanji untuk tidak mempermasalahkan masa lalunya?  Atau yang lebih urgent, mungkin saat ini masih ada beberapa hal yang belum mampu kamu terima. Itu semua masih perkara emosional. Kita semua tau pernikahan masih bisa kita bahas dari sisi manapun. Finansial misalnya, nggak jarang kita masih terjebak di pilihan kaya atau miskin. Padahal hidup itu se-abstrak yang aku jelasin tadi. 

    Keresahan-keresahan ini belum selesai berputar di kepalaku. Itulah kenapa menikah masih menjadi keputusan besar yang belum mampu aku gapai. Dan mungkin aku akan tetap menikah meski masih menyisakan beberapa pertanyaan, karena sebagai perempuan yang hidup di negara timur, kita semua sudah terikat dengan norma. Dan aku berharap suatu saat nanti bisa menemukan jawaban dari itu semua, apalagi kalau ternyata proses menemukannya dilakukan bersama dengan pasangan hidup kita. Pesanku, kalau memang kamu sudah bisa menerima semua keresahan di atas, menikah aja. Tapi kalau belum, lebih baik kita coba untuk merenungkannya lagi. Karena aku yakin kita semua tidak ada yang ingin gagal.


Annie.


Rabu, 01 September 2021

Recently

Recently
 

Hello guys and girls !

    Sengaja aku menulis sepagi ini karena rasa rindu akan aksara sepertinya seirama dengan antusiasme para siswa yang hari ini sudah masuk sekolah. Saat ini aku bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Atas, and as a young teacher aku masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan kerja yang lebih banyak Bapak/Ibu paruh baya. Setidaknya aku menyukai pekerjaan ini, menikmati setiap kali harus memberikan materi kepada muda mudi melalui layar laptop. Menjadi guru di saat pandemi memang tidak mudah, but it's challenging. Sepertinya cukup untuk update tentang pekerjaan ku saat ini. There are more stories that I want to tell you here. 

    Aku tidak menampik kenyataan bahwa aku berada di keluarga yang masih terpengaruh patriarki. Aku bahkan mengawali tahun 2021 sedang cerita perjodohan. Untungnya, perjodohan tersebut batal. Tapi batalnya juga membawa konsekuensi, mengorbankan hal lain yang aku punya, salah satunya kedamaian. Tapi semua mulai membaik sekarang, aku tidak akan membahas terlalu banyak tentang topik yang sempat menguras air mataku beberapa bulan itu. Dengan pengalaman itu, aku mendapati diriku lebih memperhatikan tentang beberapa hal yang sebelumnya abai. Mental Health, or even Women Empowering. Perkembangan ini aku akui membawa manfaat sih.

    Tentang Mental Health dulu, aku menggunakan gadget sebagai media menambah wawasan tentang kesehatan mental itu. Aku mulai sering mengikuti akun-akun yang membahas tentang kesehatan mental, tentunya akun motivasi yang memberikan aku insight baru. Yang aku sadari sih, aku jadi lebih sadar tentang karakterku, dan juga lebih merasa lega setiap harinya ketika membaca kalimat yang menenangkan dari sana. Dulu ketika masih remaja aku belum merasakan akun-akun seperti itu helpful. Mungkin karena duniaku masih baik-baik saja, struggle ku masih terkendali hehehe. Tapi pandangan itu berubah saat ini, jika aku diminta memberikan daftar orang-orang yang paling berpengaruh di hidupku, mungkin pembuat akun-akun tersebut masuk daftar deh. 

    Selain itu akupun semakin memperhatikan hak-hak perempuan yang ternyata sangat semu di dunia nyata. Sulit dipercaya aku ternyata meninggali dunia yang masih menempatkan laki-laki di atas perempuan. Bukannya aku menolak ajaran-ajaran agama, tetapi ada beberapa ranah yang sebenarnya posisi antara laki-laki dan perempuan itu setara, tetapi tidak disetarakan. Rasanya gelisah ketika eksistensi sebagai perempuan masih harus disuarakan, padahal peranannya sudah malang melintang di depan mata. Aku pernah membaca jurnal sejarah yang menulis tentang peranan perempuan selama negara ini berdiri. Mengangkat peranan perempuan memang sebuah upaya untuk menyadarkan orang-orang tentang eksistensi kami. Tetapi ini juga bukti nyata bahwa posisi kami masih di bawah laki-laki, karena jarang sekali aku menemukan penelitian dengan judul peranan laki-laki dalam blablabla. 

    Aku merasa masa-masa ini sebagai era discovery untuk diriku sendiri. Masa dimana aku mulai melihat suatu hal dengan kacamata berbeda. I'm beyond grateful untuk menceritakan ini ke kalian, yang mungkin saat ini berada di era yang sama. Aku hanya berharap bisa menjadi teman untuk jiwa-jiwa yang sedang mencari. Bahwa akupun sedang berada di jalur yang sama, jadi jikalau aku tidak menjadi penuntun, setidaknya mereka tidak sendirian di jalur itu. Di tulisan berikutnya mungkin aku akan bercerita lebih spesifik, untuk tulisan yang umum ini aku rasa bisa aku tutup sekarang. See you in the next pages. 

 

Annie.

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...