Hello guys and girls !
Sengaja aku menulis sepagi ini karena rasa rindu akan aksara sepertinya seirama dengan antusiasme para siswa yang hari ini sudah masuk sekolah. Saat ini aku bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Atas, and as a young teacher aku masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan kerja yang lebih banyak Bapak/Ibu paruh baya. Setidaknya aku menyukai pekerjaan ini, menikmati setiap kali harus memberikan materi kepada muda mudi melalui layar laptop. Menjadi guru di saat pandemi memang tidak mudah, but it's challenging. Sepertinya cukup untuk update tentang pekerjaan ku saat ini. There are more stories that I want to tell you here.
Aku tidak menampik kenyataan bahwa aku berada di keluarga yang masih terpengaruh patriarki. Aku bahkan mengawali tahun 2021 sedang cerita perjodohan. Untungnya, perjodohan tersebut batal. Tapi batalnya juga membawa konsekuensi, mengorbankan hal lain yang aku punya, salah satunya kedamaian. Tapi semua mulai membaik sekarang, aku tidak akan membahas terlalu banyak tentang topik yang sempat menguras air mataku beberapa bulan itu. Dengan pengalaman itu, aku mendapati diriku lebih memperhatikan tentang beberapa hal yang sebelumnya abai. Mental Health, or even Women Empowering. Perkembangan ini aku akui membawa manfaat sih.
Tentang Mental Health dulu, aku menggunakan gadget sebagai media menambah wawasan tentang kesehatan mental itu. Aku mulai sering mengikuti akun-akun yang membahas tentang kesehatan mental, tentunya akun motivasi yang memberikan aku insight baru. Yang aku sadari sih, aku jadi lebih sadar tentang karakterku, dan juga lebih merasa lega setiap harinya ketika membaca kalimat yang menenangkan dari sana. Dulu ketika masih remaja aku belum merasakan akun-akun seperti itu helpful. Mungkin karena duniaku masih baik-baik saja, struggle ku masih terkendali hehehe. Tapi pandangan itu berubah saat ini, jika aku diminta memberikan daftar orang-orang yang paling berpengaruh di hidupku, mungkin pembuat akun-akun tersebut masuk daftar deh.
Selain itu akupun semakin memperhatikan hak-hak perempuan yang ternyata sangat semu di dunia nyata. Sulit dipercaya aku ternyata meninggali dunia yang masih menempatkan laki-laki di atas perempuan. Bukannya aku menolak ajaran-ajaran agama, tetapi ada beberapa ranah yang sebenarnya posisi antara laki-laki dan perempuan itu setara, tetapi tidak disetarakan. Rasanya gelisah ketika eksistensi sebagai perempuan masih harus disuarakan, padahal peranannya sudah malang melintang di depan mata. Aku pernah membaca jurnal sejarah yang menulis tentang peranan perempuan selama negara ini berdiri. Mengangkat peranan perempuan memang sebuah upaya untuk menyadarkan orang-orang tentang eksistensi kami. Tetapi ini juga bukti nyata bahwa posisi kami masih di bawah laki-laki, karena jarang sekali aku menemukan penelitian dengan judul peranan laki-laki dalam blablabla.
Aku merasa masa-masa ini sebagai era discovery untuk diriku sendiri. Masa dimana aku mulai melihat suatu hal dengan kacamata berbeda. I'm beyond grateful untuk menceritakan ini ke kalian, yang mungkin saat ini berada di era yang sama. Aku hanya berharap bisa menjadi teman untuk jiwa-jiwa yang sedang mencari. Bahwa akupun sedang berada di jalur yang sama, jadi jikalau aku tidak menjadi penuntun, setidaknya mereka tidak sendirian di jalur itu. Di tulisan berikutnya mungkin aku akan bercerita lebih spesifik, untuk tulisan yang umum ini aku rasa bisa aku tutup sekarang. See you in the next pages.
Annie.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar