Kamis, 13 April 2023

Unfairness

 


Hello guys and girls!!

            Kali ini aku mau beropini mengenai perasaan tidak adil dalam kehidupan. Kalian pernah ngga mengalami sesuatu yang bagi kalian sangat tidak adil? Sesuatu yang terjadi tanpa aba-aba, tanpa pertanda, bahkan kalian tidak bersiap untuk itu, tapi takdir seolah ngga menunggu kita siap. Kita jadi harus bersusah payah merefleksi diri, bertanya-tanya apa yang sudah kita lakukan hingga takdir terasa tidak ramah. Di tengah ketetapan yang memaksa kita untuk bertahan, kita juga sekaligus mulai kehilangan rasa percaya diri di lingkungan sekitar. Kita merasa lebih rendah, tidak sempurna dan tidak sebahagia orang lain. Sekali lagi, mengapa hidup terasa tidak adil?

            Ketika membahas ketidakadilan, ada sedikit cerita yang bisa aku share untuk kita semua. Cerita ini tidak menjamin dapat menghilangkan perasaan ketidakadilan yang kita rasakan, hanya saja cerita ini memvalidasi bahwa kita tidak merasakan ini sendirian. Mengutip dari salah satu karya sastra terbesar dalam sejarah yaitu Mahabharata, dalam bagian kecil dari cerita tersebut ada seorang tokoh yang dalam hidupnya merasakan penuh ketidakadilan. Jauh sebelum lahirnya Pandawa, seorang putri raja bernama Kunti mendapatkan anugrah dari dewa yaitu dapat hamil dan memiliki anak hanya dengan berdoa kepada salah satu dewa yang dia inginkan dan anak itu akan memiliki kekuatan dari dewa tersebut. Ceritanya Kunti ini belum menikah, dan dia mencoba mantra tersebut dengan berdoa kepada Dewa Surya, alhasil ya dia hamil dan melahirkan seorang anak tanpa suami dong. Anak ini mewarisi kekuatan Dewa Surya, dia diberi nama Karna. Tapi, karena Kunti saat itu belum menikah dan dia takut mencemari nama ayahnya yang seorang raja, Kuntipun membuang Karna di sungai.

            Waktu berlalu, Karna yang seharusnya adalah Ksatria (bangsawan) justru ditemukan dan dirawat oleh keluarga kusir kuda. Karna menjalani kehidupan sebagai anak seorang kusir dengan kasta yang rendah. Walaupun begitu, darah Ksatria tetap ada dalam dirinya, Karna ini jago memanah. Dewa Surya juga menganugerahkan kepada Karna kekuatan di tubuhnya yang tidak bisa ditembus senjata apapun selama matahari bersinar, artinya selama siang hari Karna ini ngga akan bisa dibunuh. Tetapi, karena masyarakat India sangat memegang teguh kasta, orang tua angkat Karna melarangnya memanah. Dia harus mengikuti pekerjaan orang tuanya sebagai seorang kusir.

            Setelah beberapa tahun berlalu, Kunti yang selalu merindukan dan merasa bersalah terhadap anaknya ini kemudian menikah dengan Pandu, seorang raja dari Hastinapura. Dari Pandu inilah Kunti memiliki anak Yudistira, Bima, dan Arjuna. Mungkin kalian akan bertanya terus Nakula dan Sadewa anak siapa? Fyi, mereka adalah anak Pandu dengan istri keduanya Madri. Singkat cerita, mereka berlima ini disebut Pandawa dan tumbuh sebagai Ksatria hebat. Ketika Pandawa menginjak usia dewasa, di saat inilah Kunti bertemu dengan Karna yang juga telah tumbuh dewasa. Kunti dapat mengenali anaknya karena ciri-ciri tubuh Karna yang tidak dapat ditembus oleh senjata apapun. Mengetahui kehidupan Karna sebagai seorang kusir, Kunti merasa bersalah yang teramat sangat. Tapi Ia juga tidak berani mengakui hal itu di depan semua orang, karena Ia takut akan dihina akibat perbuatannya tersebut. Karna ternyata tumbuh menjadi teman dari Kurawa. Kalian pasti ngga asing kan? Yap, Kurawa ini musuhnya Pandawa yang jumlahnya ada 100. Kenapa dia bisa jadi teman Kurawa yang jahat? Karena selama ini tidak ada orang yang mau mengakui kekuatannya hanya karena dia berasal dari kasta rendahan putra kusir. Tetapi Kurawa justru menerimanya, tentu saja karena Kurawa sebenarnya hanya ingin kekuatan Karna.

            Karna yang selama ini merasa dia kuat, dan berhak diakui sebagai Ksatria, merasa para Kurawa saja yang mampu menghargainya. Oiya, Karna ini diangkat menjadi raja di Kerajaan Angga yang merupakan kerajaan bawahan Hastinapura. Tentu saja ini berkat usaha para Kurawa agar Karna dekat dengan mereka dan bisa membantu mereka melawan Pandawa. Meski tahu para Kurawa ini salah, tetapi Karna merasa harus membalas budi baik para Kurawa karena telah mengakui dirinya. Suatu ketika di tengah perang Baratayudha (perang antara Pandawa-Kurawa), Kunti akhirnya menemui Karna dan menceritakan bahwa Ia adalah anaknya yang dulu dibuang karena belum memiliki suami. Kunti meminta maaf dan meminta Karna untuk berhenti membela Kurawa. Kunti meminta Karna memihak kepada Pandawa yang merupakan adik-adiknya.

            Kalian pasti tahu kan respon Karna? Sebagai seseorang yang sudah lama sekali merasakan ketidakadilan di hidupnya, tentu saja Karna sangat ingin diakui. Karna justru mempertanyakan mengapa Kunti tega membuangnya? Mengapa Kunti tidak pernah mencarinya? Karna marah dan kesal karena selama hidupnya dia menderita akibat dibuang oleh ibunya. Tentu saja Karna menolak permintaan Kunti. Karna mengejar validasi dan pengakuan semua orang akan kehebatannya meskipun berada di jalan yang salah. Karna lelah dengan ketidakadilan yang dia rasakan selama hidupnya, Karna merasa berhak atas rasa “adil” dalam dirinya. Tetapi di akhir cerita Karna gugur dalam perang ketika Ia dipanah oleh Arjuna tepat sesaat ketika matahari tenggelam. Dari kisah Karna ini ada pesan yang luar biasa besar yang bisa diambil oleh orang-orang yang teliti.

            Sikap Karna ini ada dalam hati sebagian besar manusia, kita semua pasti pernah merasa bahwa hidup tidak adil dan berusaha untuk mencari keadilan atas diri kita. Kita menyangkal semua hal yang menurut kita tidak pantas kita rasakan, because we believe that we deserve better. Tetapi jika perasaan ini melampaui batas, kita dapat berubah menjadi Karna yang rela memilih cara yang salah demi membuktikan diri kita layak dan hebat. Kita melupakan cara-cara yang baik, kesabaran, dan pengabdian kita hanya demi memenuhi ego dan ekspektasi orang lain. Ketidakadilan yang kita alami adalah bagian dari chapter yang harus kita pijaki sebagai pembelajaran. Bukan untuk keluar dari circle yang baik itu dan menolak semua unfairness yang ada, tapi untuk melatih kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan fleksibel. Kejutkan balik dunia bahwa kita tidak hancur ditempanya. Toh kita bersama semua orang menghadapi dunia ini.

Bukankah semua orang merasa hidup tidak adil? Kalau semua orang merasa hidup tidak adil, berarti hidup sudah adil pada semua orang.

 

Annie.

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...