Hello
guys and girls!!
Kali ini aku mau beropini mengenai perasaan
tidak adil dalam kehidupan. Kalian pernah ngga mengalami sesuatu yang bagi kalian
sangat tidak adil? Sesuatu yang terjadi tanpa aba-aba, tanpa pertanda, bahkan
kalian tidak bersiap untuk itu, tapi takdir seolah ngga menunggu kita siap. Kita
jadi harus bersusah payah merefleksi diri, bertanya-tanya apa yang sudah kita
lakukan hingga takdir terasa tidak ramah. Di tengah ketetapan yang memaksa kita
untuk bertahan, kita juga sekaligus mulai kehilangan rasa percaya diri di
lingkungan sekitar. Kita merasa lebih rendah, tidak sempurna dan tidak sebahagia
orang lain. Sekali lagi, mengapa hidup terasa tidak adil?
Ketika membahas ketidakadilan, ada
sedikit cerita yang bisa aku share untuk kita semua. Cerita ini tidak
menjamin dapat menghilangkan perasaan ketidakadilan yang kita rasakan, hanya
saja cerita ini memvalidasi bahwa kita tidak merasakan ini sendirian. Mengutip
dari salah satu karya sastra terbesar dalam sejarah yaitu Mahabharata, dalam
bagian kecil dari cerita tersebut ada seorang tokoh yang dalam hidupnya
merasakan penuh ketidakadilan. Jauh sebelum lahirnya Pandawa, seorang putri
raja bernama Kunti mendapatkan anugrah dari dewa yaitu dapat hamil dan memiliki
anak hanya dengan berdoa kepada salah satu dewa yang dia inginkan dan anak itu
akan memiliki kekuatan dari dewa tersebut. Ceritanya Kunti ini belum menikah,
dan dia mencoba mantra tersebut dengan berdoa kepada Dewa Surya, alhasil ya dia
hamil dan melahirkan seorang anak tanpa suami dong. Anak ini mewarisi
kekuatan Dewa Surya, dia diberi nama Karna. Tapi, karena Kunti saat itu belum menikah
dan dia takut mencemari nama ayahnya yang seorang raja, Kuntipun membuang Karna
di sungai.
Waktu berlalu, Karna yang seharusnya
adalah Ksatria (bangsawan) justru ditemukan dan dirawat oleh keluarga kusir
kuda. Karna menjalani kehidupan sebagai anak seorang kusir dengan kasta yang rendah.
Walaupun begitu, darah Ksatria tetap ada dalam dirinya, Karna ini jago memanah.
Dewa Surya juga menganugerahkan kepada Karna kekuatan di tubuhnya yang tidak
bisa ditembus senjata apapun selama matahari bersinar, artinya selama siang hari
Karna ini ngga akan bisa dibunuh. Tetapi, karena masyarakat India sangat memegang
teguh kasta, orang tua angkat Karna melarangnya memanah. Dia harus mengikuti pekerjaan
orang tuanya sebagai seorang kusir.
Setelah beberapa tahun berlalu,
Kunti yang selalu merindukan dan merasa bersalah terhadap anaknya ini kemudian
menikah dengan Pandu, seorang raja dari Hastinapura. Dari Pandu inilah Kunti
memiliki anak Yudistira, Bima, dan Arjuna. Mungkin kalian akan bertanya terus
Nakula dan Sadewa anak siapa? Fyi, mereka adalah anak Pandu dengan istri
keduanya Madri. Singkat cerita, mereka berlima ini disebut Pandawa dan tumbuh
sebagai Ksatria hebat. Ketika Pandawa menginjak usia dewasa, di saat inilah
Kunti bertemu dengan Karna yang juga telah tumbuh dewasa. Kunti dapat mengenali
anaknya karena ciri-ciri tubuh Karna yang tidak dapat ditembus oleh senjata
apapun. Mengetahui kehidupan Karna sebagai seorang kusir, Kunti merasa bersalah
yang teramat sangat. Tapi Ia juga tidak berani mengakui hal itu di depan semua orang,
karena Ia takut akan dihina akibat perbuatannya tersebut. Karna ternyata tumbuh
menjadi teman dari Kurawa. Kalian pasti ngga asing kan? Yap, Kurawa ini
musuhnya Pandawa yang jumlahnya ada 100. Kenapa dia bisa jadi teman Kurawa yang
jahat? Karena selama ini tidak ada orang yang mau mengakui kekuatannya hanya
karena dia berasal dari kasta rendahan putra kusir. Tetapi Kurawa justru
menerimanya, tentu saja karena Kurawa sebenarnya hanya ingin kekuatan Karna.
Karna yang selama ini merasa dia
kuat, dan berhak diakui sebagai Ksatria, merasa para Kurawa saja yang mampu menghargainya.
Oiya, Karna ini diangkat menjadi raja di Kerajaan Angga yang merupakan
kerajaan bawahan Hastinapura. Tentu saja ini berkat usaha para Kurawa agar
Karna dekat dengan mereka dan bisa membantu mereka melawan Pandawa. Meski tahu
para Kurawa ini salah, tetapi Karna merasa harus membalas budi baik para Kurawa
karena telah mengakui dirinya. Suatu ketika di tengah perang Baratayudha
(perang antara Pandawa-Kurawa), Kunti akhirnya menemui Karna dan menceritakan
bahwa Ia adalah anaknya yang dulu dibuang karena belum memiliki suami. Kunti
meminta maaf dan meminta Karna untuk berhenti membela Kurawa. Kunti meminta
Karna memihak kepada Pandawa yang merupakan adik-adiknya.
Kalian pasti tahu kan respon Karna? Sebagai
seseorang yang sudah lama sekali merasakan ketidakadilan di hidupnya, tentu
saja Karna sangat ingin diakui. Karna justru mempertanyakan mengapa Kunti tega
membuangnya? Mengapa Kunti tidak pernah mencarinya? Karna marah dan kesal
karena selama hidupnya dia menderita akibat dibuang oleh ibunya. Tentu saja
Karna menolak permintaan Kunti. Karna mengejar validasi dan pengakuan semua
orang akan kehebatannya meskipun berada di jalan yang salah. Karna lelah dengan
ketidakadilan yang dia rasakan selama hidupnya, Karna merasa berhak atas rasa “adil”
dalam dirinya. Tetapi di akhir cerita Karna gugur dalam perang ketika Ia
dipanah oleh Arjuna tepat sesaat ketika matahari tenggelam. Dari kisah Karna
ini ada pesan yang luar biasa besar yang bisa diambil oleh orang-orang yang
teliti.
Sikap Karna ini ada dalam hati sebagian
besar manusia, kita semua pasti pernah merasa bahwa hidup tidak adil dan berusaha
untuk mencari keadilan atas diri kita. Kita menyangkal semua hal yang menurut
kita tidak pantas kita rasakan, because we believe that we deserve better.
Tetapi jika perasaan ini melampaui batas, kita dapat berubah menjadi Karna yang
rela memilih cara yang salah demi membuktikan diri kita layak dan hebat. Kita
melupakan cara-cara yang baik, kesabaran, dan pengabdian kita hanya demi memenuhi
ego dan ekspektasi orang lain. Ketidakadilan yang kita alami adalah bagian dari
chapter yang harus kita pijaki sebagai pembelajaran. Bukan untuk keluar
dari circle yang baik itu dan menolak semua unfairness yang ada,
tapi untuk melatih kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan fleksibel. Kejutkan
balik dunia bahwa kita tidak hancur ditempanya. Toh kita bersama semua
orang menghadapi dunia ini.
Bukankah semua orang merasa hidup tidak
adil? Kalau semua orang merasa hidup tidak adil, berarti hidup sudah adil pada
semua orang.
Annie.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar