Rabu, 15 November 2023

Monolog Kusut

 

Surabaya, 15 November 2023

Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai menyapa Surabaya, setelah babak belur dihantam panas berbulan-bulan. Tapi kali ini air hujan tidak semenyenangkan dulu, hawa dingin tidak memeluk hatiku yang kering. Tahukah kamu seberapa besar aku membenci sepi? Sepi yang selalu membuatku menyalahkan waktu. Sepi yang membiarkan mataku kosong dan pikiranku penuh. Aku tidak memiliki tempat untuk mengadukan betapa jahatnya sepi terhadapku. Mungkin ada, tapi entah aku saja yang merasa sia-sia. Aku ini raga yang kehilangan segala ambisinya. Dahulu aku kira, mimpi-mimpiku adalah ambisi yang membuatku hidup. Realitasnya, aku yang saat ini sedang menjalani mimpi itu, justru merasa kosong. Apakah terlambat menyadari kalau ambisiku adalah kamu? Apakah akan terdengar sangat egois kalau ternyata mimpiku yang sebenarnya adalah membersamaimu?

 

Kamis, 13 April 2023

Unfairness

 


Hello guys and girls!!

            Kali ini aku mau beropini mengenai perasaan tidak adil dalam kehidupan. Kalian pernah ngga mengalami sesuatu yang bagi kalian sangat tidak adil? Sesuatu yang terjadi tanpa aba-aba, tanpa pertanda, bahkan kalian tidak bersiap untuk itu, tapi takdir seolah ngga menunggu kita siap. Kita jadi harus bersusah payah merefleksi diri, bertanya-tanya apa yang sudah kita lakukan hingga takdir terasa tidak ramah. Di tengah ketetapan yang memaksa kita untuk bertahan, kita juga sekaligus mulai kehilangan rasa percaya diri di lingkungan sekitar. Kita merasa lebih rendah, tidak sempurna dan tidak sebahagia orang lain. Sekali lagi, mengapa hidup terasa tidak adil?

            Ketika membahas ketidakadilan, ada sedikit cerita yang bisa aku share untuk kita semua. Cerita ini tidak menjamin dapat menghilangkan perasaan ketidakadilan yang kita rasakan, hanya saja cerita ini memvalidasi bahwa kita tidak merasakan ini sendirian. Mengutip dari salah satu karya sastra terbesar dalam sejarah yaitu Mahabharata, dalam bagian kecil dari cerita tersebut ada seorang tokoh yang dalam hidupnya merasakan penuh ketidakadilan. Jauh sebelum lahirnya Pandawa, seorang putri raja bernama Kunti mendapatkan anugrah dari dewa yaitu dapat hamil dan memiliki anak hanya dengan berdoa kepada salah satu dewa yang dia inginkan dan anak itu akan memiliki kekuatan dari dewa tersebut. Ceritanya Kunti ini belum menikah, dan dia mencoba mantra tersebut dengan berdoa kepada Dewa Surya, alhasil ya dia hamil dan melahirkan seorang anak tanpa suami dong. Anak ini mewarisi kekuatan Dewa Surya, dia diberi nama Karna. Tapi, karena Kunti saat itu belum menikah dan dia takut mencemari nama ayahnya yang seorang raja, Kuntipun membuang Karna di sungai.

            Waktu berlalu, Karna yang seharusnya adalah Ksatria (bangsawan) justru ditemukan dan dirawat oleh keluarga kusir kuda. Karna menjalani kehidupan sebagai anak seorang kusir dengan kasta yang rendah. Walaupun begitu, darah Ksatria tetap ada dalam dirinya, Karna ini jago memanah. Dewa Surya juga menganugerahkan kepada Karna kekuatan di tubuhnya yang tidak bisa ditembus senjata apapun selama matahari bersinar, artinya selama siang hari Karna ini ngga akan bisa dibunuh. Tetapi, karena masyarakat India sangat memegang teguh kasta, orang tua angkat Karna melarangnya memanah. Dia harus mengikuti pekerjaan orang tuanya sebagai seorang kusir.

            Setelah beberapa tahun berlalu, Kunti yang selalu merindukan dan merasa bersalah terhadap anaknya ini kemudian menikah dengan Pandu, seorang raja dari Hastinapura. Dari Pandu inilah Kunti memiliki anak Yudistira, Bima, dan Arjuna. Mungkin kalian akan bertanya terus Nakula dan Sadewa anak siapa? Fyi, mereka adalah anak Pandu dengan istri keduanya Madri. Singkat cerita, mereka berlima ini disebut Pandawa dan tumbuh sebagai Ksatria hebat. Ketika Pandawa menginjak usia dewasa, di saat inilah Kunti bertemu dengan Karna yang juga telah tumbuh dewasa. Kunti dapat mengenali anaknya karena ciri-ciri tubuh Karna yang tidak dapat ditembus oleh senjata apapun. Mengetahui kehidupan Karna sebagai seorang kusir, Kunti merasa bersalah yang teramat sangat. Tapi Ia juga tidak berani mengakui hal itu di depan semua orang, karena Ia takut akan dihina akibat perbuatannya tersebut. Karna ternyata tumbuh menjadi teman dari Kurawa. Kalian pasti ngga asing kan? Yap, Kurawa ini musuhnya Pandawa yang jumlahnya ada 100. Kenapa dia bisa jadi teman Kurawa yang jahat? Karena selama ini tidak ada orang yang mau mengakui kekuatannya hanya karena dia berasal dari kasta rendahan putra kusir. Tetapi Kurawa justru menerimanya, tentu saja karena Kurawa sebenarnya hanya ingin kekuatan Karna.

            Karna yang selama ini merasa dia kuat, dan berhak diakui sebagai Ksatria, merasa para Kurawa saja yang mampu menghargainya. Oiya, Karna ini diangkat menjadi raja di Kerajaan Angga yang merupakan kerajaan bawahan Hastinapura. Tentu saja ini berkat usaha para Kurawa agar Karna dekat dengan mereka dan bisa membantu mereka melawan Pandawa. Meski tahu para Kurawa ini salah, tetapi Karna merasa harus membalas budi baik para Kurawa karena telah mengakui dirinya. Suatu ketika di tengah perang Baratayudha (perang antara Pandawa-Kurawa), Kunti akhirnya menemui Karna dan menceritakan bahwa Ia adalah anaknya yang dulu dibuang karena belum memiliki suami. Kunti meminta maaf dan meminta Karna untuk berhenti membela Kurawa. Kunti meminta Karna memihak kepada Pandawa yang merupakan adik-adiknya.

            Kalian pasti tahu kan respon Karna? Sebagai seseorang yang sudah lama sekali merasakan ketidakadilan di hidupnya, tentu saja Karna sangat ingin diakui. Karna justru mempertanyakan mengapa Kunti tega membuangnya? Mengapa Kunti tidak pernah mencarinya? Karna marah dan kesal karena selama hidupnya dia menderita akibat dibuang oleh ibunya. Tentu saja Karna menolak permintaan Kunti. Karna mengejar validasi dan pengakuan semua orang akan kehebatannya meskipun berada di jalan yang salah. Karna lelah dengan ketidakadilan yang dia rasakan selama hidupnya, Karna merasa berhak atas rasa “adil” dalam dirinya. Tetapi di akhir cerita Karna gugur dalam perang ketika Ia dipanah oleh Arjuna tepat sesaat ketika matahari tenggelam. Dari kisah Karna ini ada pesan yang luar biasa besar yang bisa diambil oleh orang-orang yang teliti.

            Sikap Karna ini ada dalam hati sebagian besar manusia, kita semua pasti pernah merasa bahwa hidup tidak adil dan berusaha untuk mencari keadilan atas diri kita. Kita menyangkal semua hal yang menurut kita tidak pantas kita rasakan, because we believe that we deserve better. Tetapi jika perasaan ini melampaui batas, kita dapat berubah menjadi Karna yang rela memilih cara yang salah demi membuktikan diri kita layak dan hebat. Kita melupakan cara-cara yang baik, kesabaran, dan pengabdian kita hanya demi memenuhi ego dan ekspektasi orang lain. Ketidakadilan yang kita alami adalah bagian dari chapter yang harus kita pijaki sebagai pembelajaran. Bukan untuk keluar dari circle yang baik itu dan menolak semua unfairness yang ada, tapi untuk melatih kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan fleksibel. Kejutkan balik dunia bahwa kita tidak hancur ditempanya. Toh kita bersama semua orang menghadapi dunia ini.

Bukankah semua orang merasa hidup tidak adil? Kalau semua orang merasa hidup tidak adil, berarti hidup sudah adil pada semua orang.

 

Annie.

Selasa, 21 Februari 2023

Mengenali Kita

 

Tulisan ini mencoba mengajak semua pembacanya untuk sejenak merenung, tentang eksistensi diri masing-masing. Merelakan satu sampai tiga menit untuk melihat ke dalam diri, betapa banyak tugas, pressure, dan ekspektasi yang dihadapi oleh diri kita setiap harinya. Di dunia yang penuh ambisi ini hidup terasa penuh dengan tahapan kaku yang seolah wajib dilalui semua orang. Kita bahkan lupa bahwa Tuhan memberikan jalan yang berbeda kepada setiap ciptaan-Nya. Aku sendiri terkadang merasa betapa hectic-nya pekerjaan yang aku lalui dari pagi hingga petang. Karena kita semua adalah jiwa yang hidup dalam sebuah raga, aku bisa merasakan terkadang ragaku mengeluh kelelahan. Bagaimana tidak, memberi makan ego untuk terus terlihat sibuk hingga membuat diri haus akan pujian, pencapaian, dan pengakuan. Pernahkah kita berpikir betapa kuat diri kita sejauh ini? Pernahkah kita merasa berhutang istirahat dan apresiasi terhadap diri kita sendiri?

 “New Year, New Me!”  Slogan yang entah siapa pencetusnya ini sekarang setara hukum alam yang harus diimani semua orang. Kita sibuk menetapkan resolusi luar biasa yang lagi-lagi harus dicapai selama satu tahun tersebut. Resolusi yang pada akhirnya menuntut dan membayangi setiap aktivitas kita. Sebenarnya tidak salah sama sekali memiliki resolusi hebat yang ingin dicapai, namun sebagian dari kita justru lupa menikmati proses. Lebih parah lagi kadang kita lengah mengambil pembelajaran dari proses yang kita lalui, ‘cause we focus only on the result. Dengan semangat membara setiap hari kita mengejar pengakuan orang lain, dan melewatkan ide untuk memulai semuanya dari hal terkecil.

Tanpa kita sadari, kita berusaha untuk menjadi pribadi yang ideal menurut kacamata orang lain. Kita bertumbuh untuk berusaha menjadi manusia inspiratif tanpa cela, yang selalu ingin dijadikan contoh bagi manusia lain. Belum lagi demi mengejar label “orang baik” kita kadang berusaha untuk selalu menuruti keinginan orang di sekitar kita. Meskipun hal tersebut bukan yang kita inginkan atau bahkan bertentangan dengan hati nurani. Kali ini kita telah masuk ke komunitas People Pleaser, kumpulan orang-orang yang merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Kita kehilangan esensi sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas. Something is missing here, bravery. Kita takut mengecewakan orang lain, hingga kita rela berbohong pada diri sendiri. Tak jarang pula, kita kehilangan diri kita sendiri. That’s why in the end of the day, kita menjadi orang yang serakah, egois, dan bahkan stress sendiri.

Lalu apakah kita harus menjadi manusia super santai yang jatuhnya jadi pemalas? Of course not! Kita berhutang banyak pada diri kita. Maka mulailah untuk berdamai dengan diri kita sendiri. Ingat, hidup ini bukan battle yang harus dimenangkan. Hidup ini sejatinya adalah perjalanan yang setiap lika likunya penuh makna. Cobalah untuk memiliki self-awareness, berkontemplasi tentang diri kita. Siapa kita sebenarnya? Apa yang benar-benar kita tuju? Sejauh mana kita bisa melakukan sesuatu? Sehingga kita mampu mengoptimalkan potensi yang ada. Selain itu, dengan mengenal jati diri kita telah mengurangi intensitas hustling yang selama ini menjadi kebiasaan. Meyakinkan pikiran dan hati bahwa we are enough just the way we are.

Merasa cukup terhadap diri sendiri harusnya menjadi kesadaran setiap manusia yang mencintai dirinya. Untuk apa mengejar standar yang sebenarnya tidak ada? Bayangkan saja kalau semua manusia harus sepintar Albert Einstein, atau harus sesukses Bill Gates, bahkan harus sekreatif Elon Musk, berapa banyak manusia akan melabeli dirinya gagal? Mungkin mereka dikenal karena gagasan, dan pemikirannya. Mereka memainkan peran “doing” yang sangat bagus. Tapi jangan lupa, semua dari kita memiliki peran “being” dan “doing” masing-masing. Kedua peran ini harus seimbang untuk menjaga diri kita still alive. Jika kita hanya terpusat pada pengakuan orang lain maka kita hanya menonjolkan sisi “doing”, sedangkan “being” adalah proses kita untuk menjadi diri sendiri, mencoba melupakan hiruk pikuk dunia dengan segala ambisinya, just being ourselves.

Melalui tulisan ini aku mengajak kita semua untuk merealisasikan rasa cinta terhadap diri kita sendiri. Orang-orang biasa menyebutnya self-love, yang akhir-akhir ini sering disalah artikan. Self-love belakang ini menjadi kambing hitam orang-orang untuk bersikap irresponsible, boros, bahkan merendahkan orang lain. Mungkin karena seringnya penggunaan kata ini membuat maknanya jadi bergeser. Self-love bukan sesuatu yang mahal, yang harus mengorbankan kualitas diri untuk melakukannya. Self-love itu sesederhana memberikan jeda pada tubuh untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Dapat juga berupa memaafkan diri kita pada kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja kita lakukan di hari ini. Membiarkan diri kita berkembang dengan cara yang sehat, merasakan segala emosi yang kita miliki muncul dengan alami. Pada intinya adalah memberikan apreasiasi pada hal-hal kecil yang kita lalui hari ini. We’ve got every right to a beautiful life, jadi sayangi diri kita, lepaskan semua beban yang kita rasa terlalu berat, berikan otonomi diri kita sepenuhnya hanya pada kita sendiri.



Annie.

Minggu, 06 November 2022

About October 2022

 


Hello guys and girls!!

Huh, after so much time I spent on work, and other activities, I’m back. October was such a busy month. Selain harus menyiapkan soal-soal untuk ujian akhir semester, aku juga lumayan sibuk membimbing tim esai sekolah. Untungnya, mereka lolos ke babak final, dan finalnya akan dilaksanakan November ini. I feel so relieved. Dan, hal lain yang ngga kalah penting di bulan Oktober adalah my engagement with Ikhya xixi.

Sorry If I didn’t introduce him before. He was my boyfriend since February, and now he is my fiancĂ©. Wait, kalian mungkin berpikir ini terlalu cepat. But it’s actually not. Ikhya adalah teman sekampus dari sahabat lamaku. Kami kemudian berkenalan dan ternyata percakapan kami lumayan cocok. Ikhya bukan laki-laki genit, atau suka cari perhatian. Dia memang cenderung cerewet but quite fun. Ikhya mampu mengimbangi pembicaraan apapun tanpa terlihat sok tahu. Dan dari berbagai obrolan kami yang ringan mulai berubah jadi sharing values yang kami pegang. Kami sama-sama sadar values kami tidak banyak berbeda. Dari situlah mulai ada perasaan lain yang menyelinap di antara aku dan Ikhya.

Now, gimana aku bisa yakin that he is the one? Well, aku coba jelaskan ya. Aku tidak akan meromantisasi tulisan kali ini, tapi jika masih romantis forgive me, it is what it is. Selama ini aku sudah beberapa kali menjalin hubungan yang banyak membuat aku belajar. Belajar menerima adalah subjek utama. Namun, dalam proses belajar itu aku melakukannya sendirian. Menerka mana yang benar dan salah. Meraba apakah ini baik atau buruk. Hingga menyimpulkan sendiri pelajaran yang aku dapat dari setiap peristiwa yang aku alami di hubungan tersebut. Tapi dengan Ikhya, aku seakan belajar bersama. Ikhya tidak mendikte mana yang benar dan salah. Tetapi aku selalu bisa datang padanya untuk mengadu tentang apapun yang membuatku ragu. Bisa dibilang Ikhya membersamai proses belajarku. Aku bahkan bisa datang dalam wujud apapun padanya, marah, sedih, bimbang, ataupun bahagia. He’d never judge me. Selain itu, aku juga merasa Ikhya berbagi prinsip yang sama denganku. Aku selalu dapat berkompromi dalam hal masa depan dengannya. ‘Cause life is full of compromises isn’t it?

Aku yakin untuk melangkah sama Ikhya, dan ternyata dia juga sama. Kamipun mencoba untuk membuat janji yang lebih serius dari sebelumnya, hubungan yang lebih jelas tujuannya, dan memberanikan diri menghadapi hari-hari yang lebih kompleks dari biasanya. So here we are, engaged. Tentu saja ini bukan klimaks dari hubungan kami, akan masih banyak momen yang kami lewati, tahap demi tahap yang akan dilalui. Kehidupan masih penuh misteri hingga hari ini. But with him, I don’t fear nothing. Karena kami sama-sama pribadi yang cukup fleksibel dalam hidup, aku merasa ngga ada tekanan untuk sesuatu. We share the same ideas about gender roles, mental health, setting boundaries with society, everything about future. Karena rasa sefrekuensi ini aku seperti udah mengenal Ikhya puluhan tahun. Ngga susah sama sekali buat adaptasi ke Ikhya. Kali ini Jalaluddin Rumi benar lagi, “lovers don’t finally meet somewhere, they’re in each other all along”.

Last but not least, aku bersyukur banget Tuhan selalu berbaik hati memberikan kejutan dan mengabulkan doa-doa yang aku langitkan. Tuhan memang tidak pernah mengecewakan hambaNya asal kita selalu percaya.

Annie.

 

Selasa, 30 Agustus 2022

Makna Menjadi Manusia

 



Hello guys and girls!!

Gimana kabar di bulan Agustus ini? Kalau kalian belum batuk pilek, kalian luar biasa!

Rasanya Agustus kali ini hectic banget, mulai dari banyak orang sakit tenggorokan sampai orang-orang yang antusias ngikutin perkembangan kasus pembunuhan Brigadir Joshua. Karena ke-hectic-an ini di penghujung bulan Agustus aku memutuskan untuk nulis lagi untuk memberi tanda bulan yang dipenuhi kesibukan. Sebenarnya bisa aja bulan ini berlalu tanpa bikin tulisan di blog, tapi karena beberapa pertimbangan, jadinya aku memilih untuk menumpahkan pemikiran-pemikiran penuh serabut dari kepala ini.

Berbicara soal pilihan nih, kalian sadar ngga hidup kita ternyata dipenuhi dengan pilihan? Semua alur yang kita jalani setiap harinya adalah realisasi dari setiap keputusan-keputusan yang kita ambil. Even sekedar mau sarapan apa pagi ini, nasi goreng atau nasi pecel? Itu juga pilihan. Hanya saja kita kadang ngga ngerasa harus berpikir sampai ribet untuk hal-hal yang udah jadi kebiasaan. Ini juga karena Tuhan menganugerahkan kita otak yang sistem kerjanya udah autopilot. Mungkin saat kita lahir, orang tualah yang menentukan sesuatu untuk kita, tapi saat kita sudah mulai masuk sekolah dasar, disini kita mulai menunjukkan kecenderungan, dan pada akhirnya mampu menentukan pilihan. If we try to contemplate, making decisions starts when we are able to think, able to determine good and bad things. Kemampuan ini adalah bentuk perkembangan diri kita sebagai seorang manusia.

Menjadi manusia berarti memiliki kebebasan untuk memilih. Walaupun terkadang pilihan manusia itu terbatas oleh kondisi manusia lain. Manusia tetap memiliki hak utama bagi hidup mereka. Dan setiap manusia bertanggung jawab terhadap dirinya atas dasar akal. Karena Tuhan telah memberi manusia akal, maka tidak ada yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, pun tidak ada yang berhak mendikte pilihan seseorang. Kalau menurut Jean Paul Sartre, seorang filsuf aliran eksistensialisme, eksistensi manusia selalu memiliki kebebasan sejauh tindakannya mendatangkan manfaat bagi eksistensi hidupnya. Sedangkan bapak filsafat modern, Rene Descartes dengan slogannya yang terkenal menyatakan “Cogito Ergo Sum”, aku berpikir, maka aku ada. Maknanya eksistensi manusia baru dianggap ada ketika manusia tersebut berpikir.

Belajar dari para filsuf di atas, it’s clear that as an individual we have the freedom of choice, and if we want to be recognized as an individual we must be able to think. Disini perlu banget dikasih penekanan, kita harus mampu berpikir, sehingga keberadaan kita diakui dan keputusan kita didengar. Sebagai manusia, aku memberikan fokus yang besar terhadap konsep ini. Karena selama hidup aku merasa terkadang eksistensiku sering diabaikan. Not only in society, but also in family (more often). Hierarki sebagai orang tua kadang membuat mereka lupa bahwa kebebasan memilih juga dimiliki oleh anak-anak mereka. Atau mungkin sebab mereka terbiasa menentukan sesuatu untuk anak mereka sejak anak tersebut kecil. Keinginan yang berbeda, pertimbangan yang berbeda, leads to a different decision. We can say it’s normal, tapi ketika terjadi di suatu keluarga, muncul gesekan yang membuat hierarki tadi muncul lagi. Parahnya ini sering terjadi dalam hal masa depan anak.

Kalau kalian pernah nonton film Dead Poet Society kalian pasti tau bagaimana Neil tergila-gila bermain drama sedangkan ayahnya ingin Neil menjadi seorang dokter. Neil sudah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa dia akan baik-baik saja meski masa depannya tidak menjadi seorang dokter, Neil bahkan selalu mendapat nilai yang bagus dan mampu lulus lebih cepat dari sekolah. Tetapi ayahnya justru mengancam akan memasukkannya ke sekolah militer. Neil kehilangan harapan dan mengakhiri hidupnya. Problem seperti ini tidak asing di society kita saat ini bukan? Disini jelas keduanya memiliki pertimbangan masing-masing, tetapi tidak semua mampu menurunkan ego untuk menyadari hidup siapa sekarang yang mereka bicarakan. Sebagai keluarga, seharusnya memberikan support adalah hal yang tidak boleh putus.  Orang tua harus sadar bahwa anak mereka tetaplah seorang individu yang memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan untuk masa depannya. Ketika seorang anak memiliki passion terhadap sesuatu, meskipun ini bukan yang orang tuanya inginkan, as a parents they should give an unconditional support for it. Karena dengan anak tau apa yang dia inginkan atau cita-citakan maka orang tua telah berhasil mendidiknya untuk mampu berpikir sendiri.

Jangan lupa, masyarakat Eropa pernah terjebak di masa kegelapan hanya karena mereka tidak berani berpikir tentang alam semesta, mereka tidak berani mempertanyakan sesuatu, mereka hanya menerima apa yang dihadapkan bagi mereka tanpa memiliki keinginan yang lain. Seorang filsuf dari Jerman, Immanuel Kant bahkan pernah mengatakan manusia belum menggunakan rasionya (akal) semaksimal mungkin karena masih dikuasai otoritas-otoritas lain seperti tradisi, ini tanda manusia belum dewasa. Menurut Kant, manusia dianggap dewasa ketika Ia mampu berpikir sendiri tanpa bergantung otoritas apapun. Berarti ketika seorang anak sudah mampu menentukan pilihan untuk hidupnya, maka kedewasaan sudah ada padanya. Jadi, dengan memaksakan kehendak pribadi kepada seseorang apalagi dalam hal menentukan masa depannya, artinya menekan kedewasaan seseorang, melanggar hak kebebasannya untuk memilih, dan mengaburkan eksistensinya sebagai manusia.

Teruntuk kita yang sekarang ada di usia 20an, yang baru saja meninggalkan masa remajanya. Mungkin kalian sedang di fase jenuh menentukan sesuatu karena banyaknya pertimbangan, atau ekspektasi yang kalian pikul. Mungkin di usia ini kalian sedang mencari jati diri, kalian sedang membayangkan masa depan seperti apa yang ingin kalian bentuk. Aku ingin mengajak kalian ntuk berani berpikir sendiri, berani mengambil keputusan, dan memperjuangkan eksistensi diri sebagai seorang individu yang dianugerahi akal. Sapere Aude!


Annie.

Senin, 17 Januari 2022

Tahta dan Wanita : Teladan Kaum Puan

 




Hello Guys and Girls !!!

It’s been a long time sejak terakhir kali aku posting tulisan di blog. Dan sekarang aku kembali menulis satu topik yang bisa dibilang favorit aku sih, yap perempuan. I don’t remember how many times I’ve spoken this topic, tapi memang tema ini seseru dan sepenting itu teman-teman. Biasanya kalau sudah mengangkat tema perempuan, maka topik patriarki pasti disinggung. Mungkin sudah ada tulisan aku yang membahas betapa pentingnya kesetaraan gender, dan pengakuan tentang peran perempuan. Seolah perempuan meminta untuk tampil menggantikan laki-laki, atau seolah perempuan berusaha untuk bersaing dengan laki-laki. No, that’s not true. Kesetaraan gender dan pengakuan peran perempuan bukan untuk mengalahkan laki-laki. So, for today I will tell you a story about a woman who made a big impact, memainkan peran vital meski bukan tokoh utama.

But before we start the story, aku perjelas dulu tujuan dari tulisan kali ini apa. Melalui cerita ini aku ingin menyampaikan bahwa perempuan yang sedang berusaha untuk menghilangkan patriarki tidak bermaksud ingin merendahkan laki-laki. As a woman, kami tidak berusaha untuk merampas peran laki-laki, terlampau sering para perempuan memegang ranah domestik, bergerak di belakang layar, tetapi sayangnya perannya ngga diperhitungkan. We all can’t deny fakta betapa posisi kami memang harus diperjuangkan. Bahkan tulisan yang berjudul “Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia” yang ditulis oleh Ade Irma dan Dessy Hasanah yang dimuat dalam Social Work Jurnal mencatat masyarakat Hindu di tahun 1500 SM tidak memberikan hak waris kepada perempuan ketika suaminya meninggal. Di zaman itu pula banyak anak perempuan yang dinikahkan di usia sangat muda tanpa diberikan pendidikan, sehingga banyak dari mereka yang mengalami buta huruf. Kemudian, di masa penjajahan Belanda dan Jepang banyak sekali perempuan pribumi yang dijadikan pekerja seks bagi para tentara asing. Dan sampai saat ini masih banyak ketidak adilan terhadap perempuan yang masih terjadi. So, it is always reasonable to talk about patriarchy this time.

The story is about a woman during Majapahit era, perempuan hebat yang memainkan perannya sebagai seorang ibu dan seorang politisi cerdas.  It may sounds riddiculous tapi kita tidak bisa mengabaikan peran dari sosok ini, now we are talking about Gayatri Rajapatni. Dia adalah anak dari raja terakhir Singhasari. Setelah kerajaan ayahnya diserang, Ia sempat hidup sebagai tawanan. Baru setelah suaminya berhasil membebaskannya dan membangun kembali kerajaan dengan nama Majapahit, Gayatri mendapatkan kedudukan sebagai ratu. Of course she is not the only queen, tapi Gayatri bisa dibilang satu-satunya ratu yang menyelamatkan takhta Majapahit dengan kecerdasannya.

Dia melahirkan 2 orang putri, anak tertuanya bernama Tribhuwana Tunggadewi yang mendapatkan posisi sebagai Bupati di Kahuripan. Saat itu takhta Majapahit diberikan kepada Jayanegara, anak dari ratu yang lain karena Gayatri tidak memiliki anak laki-laki. Tetapi Jayanegara tidak mampu menjaga kedamaian di Majapahit, banyak pemberontakan yang menyebabkan Jayanegara akhirnya dibawa ke pangasingan hingga akhirnya terbunuh. Dengan kematian Jayanegara, suksesi Majapahit seharusnya jatuh ke tangan Gayatri. Tapi, apakah Gayatri mengambil posisi tersebut? Tidak.

Gayatri tried to safe the crown, dia tau usianya sudah tidak muda lagi untuk menjadi seorang kepala negara dan ini hanya akan memberi ketenangan yang sementara bagi Majapahit, dan dengan kejelian politik yang dia miliki akan lebih baik baginya untuk hanya mengawasi takhta dari balik layar. Gayatri memutuskan untuk menjadi bhiksuni, dan menyerahkan takhta Majapahit kepada Tribhuwana Tunggadewi, tentunya dengan pangawasan Gayatri. Majapahit akhirnya mulai mengalami recovery dan mulai berkembang lagi di bawah Tribhuwana dan Mahapatih Gajah Mada. Kemudian dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Hayam Wuruk. Sejarah mencatat betapa banyak prestasi Majapahit saat dipimpin oleh anak dan cucu Gayatri. Semua ini tidak terlepas dari ide-ide politis yang Gayatri miliki. From her story kita belajar bahwa yang terpenting adalah memainkan peran dan menjadi berguna, terlepas apakah kita memainkan peran utama atau tidak. Sebagai seorang perempuan, Gayatri berhasil menekan egonya, dia berhasil menyadari nilai-nilai yang ada pada dirinya dan berhasil untuk mengambil keputusan-keputusan hebat dalam hidupnya.

Mungkin jika saat ini kita belum mampu sepenuhnya menghapus patriarki dari dunia ini, setidaknya kisah hidup Gayatri bisa membukakan mata kita bahwa seorang perempuan akan selalu memiliki peran dalam kehidupan. Seorang Gayatri mungkin tidak menyangka dirinya akan dikenang saat ini, but she did very well. Meski namanya tidak tercatat dalam singgasana, tapi siapapun ngga ada yang bisa denial sama posisi dia di Istana. Di tempat manapun kita berada, berpijak, bekerja, cobalah untuk selalu memiliki semangat Gayatri dalam diri kita. 

Annie. 



Jumat, 22 Oktober 2021

Jangan-Jangan Kamu Gaslighting ?

 

Jangan-Jangan Kamu Gaslighting ?



Hello guys and girls !!!

    Di tulisan kali ini aku mau ngebahas topik yang lagi hangat-hangatnya nih, terutama bagi para pecinta K-drama. Ini tentang skandal yang menyeret nama aktor sejuta umat yang sekarang bisa dibilang lagi naik daun, “KSH”. Aktor ini kena skandal setelah seorang perempuan yang mengaku sebagai mantannya menulis sebuah cerita yang menurut aku cukup membuat fans si aktor kecewa banget. Gimana engga, aktor ini punya image yang baik, dia dikenal sebagai aktor yang nice, respectful, bahkan karakter dia aja di drama korea selalu jadi lelaki idaman. Nah ini seakan berbanding terbalik sama cerita yang diposting oleh mantannya di Nate-Pann yang memberikan kesan kalau si aktor ini orang yang egois banget.

    Jadi singkatnya tulisan yang diposting pada Oktober 2021 itu menceritakan bahwa si penulis ini pernah berpacaran sama si aktor K di tahun 2020. Hubungan mereka layaknya pacaran di negara luar ya, mereka udah sering berhubungan badan. Tapi, si cewek ini selalu mengkonsumsi obat untuk mencegah kehamilan, ya kaya pil KB kali ya kalau disini. Suatu ketika, si cewek ngga enak badan jadi ngga konsumsi obat itu, terus karena gaya berpacaran seperti itu ya kita tau lah ujungnya gimana, yap si cewek hamil. Si aktor ternyata ngga siap punya baby, diapun menyarankan si cewek untuk aborsi. Si aktor meyakinkan si cewek kalau mereka ngga siap punya anak, dan akan banyak kerugian dari segi materi kalau mereka mempertahankan bayi itu. Akhirnya si cewek nurut, fyi di Korea Selatan kehamilan sebelum 14 minggu masih legal untuk digugurkan. Setelah mengaborsi bayinya, ehh pada Juli 2021 aktor K minta putus.

    Hal pertama yang muncul di pikiranku ketika baca berita ini adalah gimana kondisi mental cewek ini. Gimana dia bisa survive dengan tekanan yang dia dapat selama bersama si aktor, ditambah lagi dia ngga dapet pengakuan. Pas pacaran dia harus rela konsumsi obat, terus ketika ternyata hamil, dia diminta aborsi, dia juga harus menyembunyikan identitasnya sebagai pacar si aktor, terus diputusin. Si cewek masih hidup aja itu udah luar biasa banget, apalagi dia bisa bercerita pengalaman kaya gitu. Oiya dalam postingannya si cewek sempat menyebutkan bahwa kata dokter kondisi kandungannya lemah, jadi kalau aborsi dia kemungkinan sulit punya anak lagi. And she took the risk for this man, biar si aktor tetep bisa populer, dan biar hubungan mereka tetap baik-baik aja. Okelah, ngga adil kalau kita blaming sepenuhnya ke si aktor, let say hubungan seperti ini adalah kesepakatan mereka berdua. But, when he can't see the worth inside his girlfriend, when he easily asking for something yang hanya menguntungkan dirinya, yet nyawa si cewek malah dipertaruhkan. Ini sih yang jadi fokus aku, karena ternyata masih ada aja orang yang nyalahin si cewek ini.

    Beberapa netizen yang kontra sama si cewek memakai alasan bahwa semua yang dia alami itu udah merupakan kesepakatan dia dan si aktor, jadi ngga adil kalau nyalahin si aktor sepenuhnya. Ada juga yang ngerespon dengan bilang si cewek melakukan Malicious Distribution, atau menggunakan teknologi untuk menyebarkan konten yang bertujuan merusak reputasi seseorang, dalam kasus ini si aktor K. Aku kurang setuju sih kalau si cewek ini dianggap berusaha merusak reputasi aktor K, karena dari awal dia ngga pernah kasih clue mengenai siapa aktor K ini. Kenapa pada akhirnya bisa merujuk ke pemeran drama Hometown Cha-Cha-Cha? Ini awalnya asumsi yang diutarakan sama seorang reporter, dan sampai pada akhirnya aktor “KSH” ini mengakui sendiri kalau itu memang dirinya. Aku paham sih pasti pengakuan itu mengecewakan fans nya “KSH”, tapi setidaknya ini lebih baik daripada dia ngga ngaku, dan semakin egois lah dirinya, ya walaupun kita ngga ada yang tau pada akhirnya. Menurutku, tujuan cewek ini hanya berusaha speak up tentang pengalaman dia, dan sebagai seorang individu dia punya hak untuk nulis apapun selama itu bukan hoax.

    Dari berbagai respon netizen yang udah aku baca, sangat disayangkan banyak orang yang ngga bisa berempati sama orang lain. Sebenarnya banyak faktor sih, tapi yang paling aku ngga ngerti kebanyakan faktornya hanya karena mereka adalah penggemar si aktor. Seolah mereka tidak terima karena isu ini ada pada saat si aktor lagi di puncak karir. Ya masa kecintaan kalian pada seseorang membuat kalian menutup mata dan perasaan kalian sih? Parahnya lagi sebagian besar netizen yang tidak bisa berempati ke masalah ini justru dari kaum perempuan. Sebagai sesama cewek kenapa sih kita sulit untuk berempati? Harusnya kan kita lebih mengerti posisinya, kita lebih mengerti perasaanya. Ngga sedikit bahkan yang menyalahkan si cewek karena udah membuat si aktor kehilangan banyak tawaran shooting karena postingan dia. Sadar atau engga respon seperti ini adalah bentuk gaslighting.

    Gaslighting adalah bentuk manipulasi perasaan yang dilakukan seseorang agar si korban merasa dirinya-lah yang jadi sumber masalah. Gaslighting bikin seseorang kehilangan kepercayaan diri, bahkan korban sampe ngga bisa bedain salah dan benar lagi. Dari kasus ini si cewek kan hanya ingin bercerita pengalaman dia dan ini bukan hoax juga, tapi netizen banyak yang justru nyalahin dia. Si cewek bahkan sempat nulis lagi dan dia bilang mau ngehapus postingannya karena udah berdampak buruk ke aktor “KSH” ini. Hayo buat kalian yang merasa udah membuat komentar negatif terhadap si cewek, sadar ngga kalian udah gaslighting ke cewek ini? 

    Kadang kita sulit mengidentifikasi perilaku kita sendiri, karena adanya kebebasan berpendapat. Tapi kebebasan ini bikin kita lupa sama empati, yang harusnya kita dahulukan. Contoh waktu ada kasus pelecehan seksual, orang-orang yang suka gaslighting biasanya nyalahin pakaian korban yang dianggap terlalu terbuka, padahal jelas-jelas yang salah ya pelaku pelecehan. Ini hanya contoh kasus aja, mungkin di kehidupan pribadi secara ngga sadar kita sering gaslighting ke orang sekitar, bisa keluarga, teman, atau pasangan. Ada baiknya kita banyak cari tau tentang how we should react to something, banyak cari tau juga tentang perilaku-perilaku yang berdampak ke psikologis, biar kita seenggaknya tidak melakukan hal-hal yang justru menambah beban korban yang bisa jadi ada di sekitar kita.  Oke, sekian dulu tulisan kali ini, biar bisa sama-sama belajar kalian boleh kok tulis pendapat di kolom komentar. Thank you!

Annie.

 

 

 

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...