Selasa, 20 April 2021

Bait Suci Sang Puan

Lantunan ayat-ayat langit menerobos bilik sederhana

Sengaja menenangkan Puan manis dengan berjuta mimpi mengangkasa

Yang selalu meringkuk, terbuai dengan semesta pribadi yang ia cipta

Berhasil memaksa jagad raya berkumpul dalam ruang rahasia miliknya

 

Dalam tatapan matanya, ada tumpah ruah rasa bernama cinta

Menjadi alasan senyuman magis melengkung sempurna di bibirnya

Gerombolan burung kecil yang diam-diam mengintip dari jendela

Menuai tanya, tidakkah kesepian memenjara dirinya?

 

Puan itu gemar mengisahkan bait sucinya dengan waktu

Bersama dalil-dalil dan cokelat hangat yang ia seduh

Tak mengenal sepi, inilah kebebasan yang ia tuju

Bebas merangkai aksara memuja Tuhan dengan merdu

 

Untuknya, ia hanya penghamba setia Sang Maha Tinggi

Tulus menerima setiap celah yang lazimnya dipungkiri

Memberi apresiasi bagi keagungan jiwa pemberian Ilahi

Dan ketidaksempurnaan yang membuatnya lebih manusiawi

 

Surabaya,  2018

Yang Kunantikan

 

Detik jam dinding tua menjadi dialog sunyiku dengan waktu

Menghabiskan masa yang entah dimana batasnya

Sembari menatap penjuru kota dengan ribuan manusia

Yang jiwanya gersang, sukmanya kekeringan

 

Hingga gerimis seketika mengetuk bilik dan kaca jendela

Sosok yang didamba semesta akhirnya tiba

Aku tahu, sejak aroma petrichor menyeruak di udara

Hujan, merombak nuansa apa saja menjadi romansa

 

Nampaknya aku berutang pada angin yang rela mengantar

Jiwamu mulai menerobos di antara dinding-dinding lembab

Bagaimana rasanya menghampiri bumi yang lemas?

Bagaimana rasanya menjumpai tubuh yang meranggas?

 

Itulah mengapa aku menanti hujan dengan sabar

Membasahi setiap sudut pipi wanita-wanita lejar

Menebar harapan bagi pemuda yang penuh kehampaan

Adalah bagian terfavorit dari November yang selalu kunantikan

 

Semesta, musim hujan 2018


Kisah Tuan dan Batas


Malam masih memeluk erat dimensi yang tak terjangkau bayang

Bersama dingin yang dihiasi cahaya-cahaya ruai menjuntai

Rasanya awan terlalu iba hingga enggan meninggalkan perasaan ini

Berpegang doa, Tuan mengakhiri harinya dalam lelap yang nyenyak

 

Dalam setiap jenak

Tuan ternyata penghamba tunak

Kepada sosok perempuannya yang telah lenyap

 

Baginya, kumparan doa yang dirapal tak memuaskan benak

Tetapi dunia ini bukanlah tempat baik untuk menolak

Hanya memori tersisa yang mampu meredam sesak

Menggambarkan pesona pujaannya dengan sempurna

 

Hiduplah ia dan pujaanya dalam ilusi yang dipungkiri

Menutup mata akan kebohongan yang ia bangun sendiri

Menghidupkan kisah yang telah lama mati

Bersama tubuh putih kekasihnya yang teramat dicintai

 

Dongeng ini berakhir Tuan-

Biarkan dia pergi.

 

Surabaya, 2018.

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...