Sengaja menenangkan Puan manis dengan berjuta mimpi
mengangkasa
Yang selalu meringkuk, terbuai dengan semesta
pribadi yang ia cipta
Berhasil memaksa jagad raya berkumpul dalam ruang rahasia
miliknya
Dalam tatapan matanya, ada tumpah ruah rasa bernama
cinta
Menjadi alasan senyuman magis melengkung sempurna di
bibirnya
Gerombolan burung kecil yang diam-diam mengintip
dari jendela
Menuai tanya, tidakkah kesepian memenjara dirinya?
Puan itu gemar mengisahkan bait sucinya dengan waktu
Bersama dalil-dalil dan cokelat hangat yang ia seduh
Tak mengenal sepi, inilah kebebasan yang ia tuju
Bebas merangkai aksara memuja Tuhan dengan merdu
Untuknya, ia hanya penghamba setia Sang Maha Tinggi
Tulus menerima setiap celah yang lazimnya dipungkiri
Memberi apresiasi bagi keagungan jiwa pemberian
Ilahi
Dan ketidaksempurnaan yang membuatnya lebih
manusiawi
Surabaya, 2018


