Detik jam dinding tua menjadi dialog sunyiku dengan waktu
Menghabiskan masa yang entah dimana batasnya
Sembari menatap penjuru kota dengan ribuan manusia
Yang jiwanya gersang, sukmanya kekeringan
Hingga gerimis seketika mengetuk bilik dan kaca jendela
Sosok yang didamba semesta akhirnya tiba
Aku tahu, sejak aroma petrichor menyeruak di udara
Hujan, merombak nuansa apa saja menjadi romansa
Nampaknya aku berutang pada angin yang rela mengantar
Jiwamu mulai menerobos di antara dinding-dinding lembab
Bagaimana rasanya menghampiri bumi yang lemas?
Bagaimana rasanya menjumpai tubuh yang meranggas?
Itulah mengapa aku menanti hujan dengan sabar
Membasahi setiap sudut pipi wanita-wanita lejar
Menebar harapan bagi pemuda yang penuh kehampaan
Adalah bagian terfavorit dari November yang selalu
kunantikan
Semesta, musim hujan 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar