Selasa, 20 April 2021

Yang Kunantikan

 

Detik jam dinding tua menjadi dialog sunyiku dengan waktu

Menghabiskan masa yang entah dimana batasnya

Sembari menatap penjuru kota dengan ribuan manusia

Yang jiwanya gersang, sukmanya kekeringan

 

Hingga gerimis seketika mengetuk bilik dan kaca jendela

Sosok yang didamba semesta akhirnya tiba

Aku tahu, sejak aroma petrichor menyeruak di udara

Hujan, merombak nuansa apa saja menjadi romansa

 

Nampaknya aku berutang pada angin yang rela mengantar

Jiwamu mulai menerobos di antara dinding-dinding lembab

Bagaimana rasanya menghampiri bumi yang lemas?

Bagaimana rasanya menjumpai tubuh yang meranggas?

 

Itulah mengapa aku menanti hujan dengan sabar

Membasahi setiap sudut pipi wanita-wanita lejar

Menebar harapan bagi pemuda yang penuh kehampaan

Adalah bagian terfavorit dari November yang selalu kunantikan

 

Semesta, musim hujan 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...