Selasa, 20 April 2021

Kisah Tuan dan Batas


Malam masih memeluk erat dimensi yang tak terjangkau bayang

Bersama dingin yang dihiasi cahaya-cahaya ruai menjuntai

Rasanya awan terlalu iba hingga enggan meninggalkan perasaan ini

Berpegang doa, Tuan mengakhiri harinya dalam lelap yang nyenyak

 

Dalam setiap jenak

Tuan ternyata penghamba tunak

Kepada sosok perempuannya yang telah lenyap

 

Baginya, kumparan doa yang dirapal tak memuaskan benak

Tetapi dunia ini bukanlah tempat baik untuk menolak

Hanya memori tersisa yang mampu meredam sesak

Menggambarkan pesona pujaannya dengan sempurna

 

Hiduplah ia dan pujaanya dalam ilusi yang dipungkiri

Menutup mata akan kebohongan yang ia bangun sendiri

Menghidupkan kisah yang telah lama mati

Bersama tubuh putih kekasihnya yang teramat dicintai

 

Dongeng ini berakhir Tuan-

Biarkan dia pergi.

 

Surabaya, 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monolog Kusut

  Surabaya, 15 November 2023 Aku termenung, seperti malam-malam sebelumnya. Hanya kali ini disertai gerimis yang membosankan. Hujan mulai me...